Kamis, 30 Agustus 2012

Beratnya Bersekolah dan Reuni Yang Dirindukan

Bersekolah itu berat,
menjengkelkan, dan makan hati.
Tetapi, kita akui saja, ketika masa-masa sekolah itu berakhir
kita semua akan selalu merindukannya.

[Sudah berpisah 43 tahun pun, seperti kami, bila ada kesempatan
selalu saja ingin suasana bersekolah itu bisa kembali].


Reuni Mini A-1969, Wonogiri, 22 Agustus 2012

Alumni SMP Negeri 1 Wonogiri Angkatan (Lulus) 1969 yang hadir : Bambang Haryanto (1b//2a/3b), Bambang Sadoyo (1b/2b/3b), Eddy Darmodjo (1a/2d/3a), Endang Sri Utami (1c/2a/3a), Joko Sunaryo (1d/2b/3d), Kustati Sri Hariti (1a/2e/3a), Niniek Endang Wuryani (1a/2c/3a),

Singgih Sisworo (1e/2c/3e), Sri Djarwaningsih (1a/2c/3a), Sri Hadi "Gembong" Pramono (1e/2d/3e), Sri Hargiyanto (1e/2a/3e), Sri Purwanti (1e/2e/3/e), Sri Ruwanti (1a/2d/3a), Sri Sudarini (1a/2b/3b), Sri Sutantini (1d/2b/3a), Sri Wahyuni (1d/2c/3b), Sutarmi (1e/2d/3d) dan Widodo "Dodik" Setyobudhy (1e/2b/3e).

Bertempat di Pondok Dahar "Tidar Raos"
Jl. Kartini No. 61 Wonogiri yang dikelola oleh Sri Sudarini.


Album Tanda Tangan Peserta Reuni Mini A-1969, Wonogiri, 22 Agustus 2012


Back sound untuk reuni mini A-1969 SMP Negeri 1 Wonogiri rasanya cocok bila dipilih karya dari Roxy Music, "If There Is Something" (1972)  yang ikut menghiasi film Flashback of a Fool (2008).

"Goyangkan rambutmu dengan ekor kudamu
Kembalikan diriku
(ketika kau muda dulu)

Lemparkan hadiah-hadiah indahmu ke udara
Saksikan ia berjatuhan di bumi
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika bukit-bukit semakin meninggi
(ketika kita muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika pepohonan semakin menjulang tinggi
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika rerumputan semakin menghijau
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki
(ketika kau muda dulu)."


Bambang Haryanto 1b//2a/3b
Wonogiri, 31 Agustus 2012

Rabu, 01 Agustus 2012

Rambut Sudah Beruban Belum Dapat Pekerjaan

* Catatan Dari Reuni 2003 Alumni SMPN 1 Lulusan Tahun 1969


Sebagai wahana nostalgia, reuni mampu menggugah banyak kenangan masa lampau yang sebenarnya telah terkubur oleh waktu.

Begitulah yang terjadi pada reuni murid SMP Negeri 1 Wonogiri lulusan tahun 1969, yang tergabung dalam Ikassari.

Acara reuni dan silaturahmi halalbihalal juga dihadiri para guru yang dulu pernah mengasuhnya.

''Kurun waktu 34 tahun telah mengubah kalian menjadi tidak muda lagi,'' kata Drs Muhamad Supardi, guru yang dulu mengasuh mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Meski para peserta reuni banyak beruban, bahkan ada yang telah punya cucu, sifat jenaka remaja mereka masih saja dapat muncul. Sebagaimana yang dilakukan Rosyid Wibowo (1c/2c/3c), misalnya.

Saat bersalaman dengan rekannya, Bambang Purnomo (1c/2a/3c), serta merta dia berkata: ''Mbang, apa kowe yo isih keren kaya ndhisik  (Apa kamu ya masih geli seperti dulu-Red) ?'' seraya ngithik-ngithik bagian pinggangnya.

Misteri hidup. Mencermati nasib para alumni memang cukup menarik. Di sana ada misteri yang sulit diurai dengan logika. Betapa tidak? Tahun lulusan boleh bersamaan, tetapi perjalanan nasib membawanya dalam garis yang berlainan. 

Sebagai contoh, peserta reuni yang karena usianya sekarang telah mencapai 50 tahun, lima sampai enam tahun lagi bagi mereka yang jadi birokrat di jajaran PNS, tentu segera pensiun.

Tetapi ironisnya, di antara lulusan 1969 ini ternyata masih saja ada yang belum bekerja. ''Rekan-rekan sudah akan pensiun, saya nyanthol kerja saja belum,'' keluh rekan yang sampai sekarang mengaku masih menganggur.

Ketua Ikassari E Liliek Dwi Sularyanto (1c/2b/3c) mengatakan, perjalanan waktu memang membawa nasib para lulusan menjadi beragam.

Sederet nama lulusan yang sukses, di antaranya ada yang jadi arsitek seperti Edi Darmojo (1a/2b/3a), wiraswastawan Dewa (1a/2c/3a), dosen ITB Muhamad Nurdin (1b/2c/3b), Direktur Keuangan PLN Mohamad Hasyim (1a/2b/3b), perwira tinggi (pati) TNI-AL Gunadi (1b/2/3b), disainer tekstil Rosyid Wibowo (1c/2c/3c), mantri bank Suprapto, pemimpin proyek E Liliek Dwi Sularyanto (1c/2b/3c), dan lain-lain.

Paranormal.Di sisi lain banyak pula yang menjadi guru, juga ada yang menjadi kepala sekolah, kepala susun, montir, bahkan paranormal. ''Apa pun pekerjaan kalian, kami berharap jadilah engkau sebagai figur profesional di bidangnya,'' pesan Muhamad Supardi.

Ikut hadir dalam reuni ini, para mantan guru pengasuh seperti H Margono Notopertomo SPd, Suliyo, Mulyono Wasto, Drs Simin Karsanto, Saikan BA, Diyarko, Drs Ngatiyo, Drs Maridi, Drs Sumadiyono, dan Sutomo BS BA.

Juga beberapa mantan pegawai di bagian TU yang dulu setia mengurus masalah adiminstrasi sekolah. ''Bagi saya, tahun 1969 adalah tahun yang paling saya ingat,'' ujar Margono yang sekarang mengaku aktif menjadi narasumber bawa raos kejawen di Radio Permata. Sebab, tahun itu dia mendapat jodoh Bu Ngatini yang waktu itu juga sama-sama sebagai guru di SMP Negeri 1 Wonogiri.

Kata Lilik, upaya menggelar reuni bukan bermaksud sekadar nostalgia dan hura-hura. ''Bersama rekan-rekan, kami berupaya untuk senantiasa dapat memberikan kontribusi positif terhadap sekolah ini dan juga Wonogiri,'' katanya. 

Dia mencontohkan, ketika ada musibah kebakaran Pasar Wonogiri, pihak Ikassari memberikan masukan sebagai alternatif solusi kepada Bupati.

(Bambang Pur/1c/2a/3c).

Tautan : klik di sini.
Data kelas ditambahkan dan diunggah oleh : Bambang Haryanto (1b/2a/3b)

Wonogiri, 1 Agustus 2012

Selasa, 31 Juli 2012

Ritus Reuni di Era Digital

Oleh : Bambang Haryanto 1b/2a/3b
Email : wonogirikita (at) gmail.com


Rindu teman lama. Setiap orang memiliki kecenderungan narsistik. Mengagumi dan mencintai dirinya sendiri. 

Apalagi di era Internet ini di mana setiap orang bebas untuk mengekspresikan diri mereka di hadapan dunia.

Hasil kajian terhadap pemanfaatan mesin pencari Google di Internet menunjukkan hal menarik tersebut.

John Battelle dalam bukunya The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2006) mengungkap data dari jajak pendapat Harris (2004) hampir 40 persen adalah pencarian yang berbau narsis, dengan mengetikkan nama kita sendiri di mesin pencari. 

Tujuannya sederhana, ingin mengetahui apakah nama kita masuk sebagai salah satu “koleksi” khasanah informasi dunia.

Tetapi wartawan dan salah satu pendiri majalah gaya hidup digital Wired justru yakin bahwa pencarian berbau narsis itu mencapai porsi yang lebih tinggi. Disusul pencarian informasi tentang mantan kekasih, teman lama dan kerabat keluarga.

Kebutuhan manusiawi. Di luar dunia maya, momen dan suasana Idul Fitri yang baru kita lalui itu kiranya semakin menegaskan hasil kajian John Battelle di atas. Ritus mudik lebaran untuk mempertemukan dan menautkan kembali ikatan keluarga, yang selama ini hidup mereka terpencar-pencar secara geografis, selalu saja menjadi pangilan jiwa yang sulit dielakkan ketika momen mulia itu menyapa kita.

Selain keinginan bertemu keluarga dan handai taulan, kalau Anda rajin menyimak isi kolom surat-surat pembaca, spanduk di jalanan, milis sampai status di Facebook, pasti mudah kita temui informasi tentang penyelenggaraan reuni lulusan sekolah tertentu yang mengambil momen di hari Lebaran.

Mereka yang sudah berpisah selama puluhan tahun, membuat impuls-impuls nurani untuk bisa kembali merasakan atmosfir dan interaksi di masa lalu, adalah hal manusiawi yang bisa kita fahami. Dan hal itu menyehatkan jiwa.

Bahkan dari reuni para lulusan tersebut seringkali muncul aksi-aksi positif. Seperti penghimpunan dana untuk membantu pembangunan mantan sekolahnya, pemberian cendera mata sampai santunan kepada mantan-mantan guru mereka. Namun sejauh ini, para alumni itu nampak masih berkutat untuk tenggelam berasyik-asyik semata dalam “pulau-pulau kenangan” masa lalu mereka. Kegiatan rekreatif dan bahkan cenderung miopia.

Angkatan tahun sekian hanya tahu dan peduli terhadap teman seangkatannya saja. Bahkan terlibat “bentrok” ketika hendak memakai fasilitas, misalnya aula sekolah, yang pada saat yang sama juga diinginkan untuk dipakai oleh angkatan lainnya.

Belum lagi betapa para alumni itu seringkali terputus hubungannya sama sekali dengan adik-adik mereka yang kini menjadi anak didik di sekolah yang sama. Juga tidak banyak sekolah yang sengaja mendokumentasikan prestasi anak didiknya yang terdahulu untuk bisa diangkat menjadi inspirasi atau sumber motivasi bagi anak didik mereka sekarang ini.

bambang haryanto,ritus reuni,era digital,alumnus smp negeri 1 wonogiri,alumnus universitas indonesia,blogger wonogiri,valensia atika dewi

Pendidikan kolaboratif. Ritual reuni para lulusan sampai aksi-aksi pemberian karitatif/berderma mereka, kini saatnya dikembangkan secara lebih kreatif dan inovatif. Utamanya, terkait dengan wacara pendidikan di era digital, yaitu pendidikan kolaboratif. Mazhab itu merujuk betapa pendidikan di era Internet dewasa ini tak bisa lagi hanya mengandalkan tutur dan kapur (talk and chalk) di kelas semata.

Anak didik kini juga harus tersambung dengan anak didik lainnya, bahkan di seberang benua, dalam proses belajar mereka. Mereka harus mampu pula tersambung dengan para kakak-kakak kelas mereka. Walau mereka dipisahkan oleh geografis sampai perbedaan usia, tetapi Internet mampu menjadi pengikat mereka dengan ragam materi interaksi yang mampu dikembangkan sejauh imajinasi kita.

Tokoh visioner dan “nabi” media digital dari Media Lab Massachusetts Institute of Technology (MIT), Nicholas Negroponte dalam bukunya Being Digital (1995), menyebutkan kini terdapat jutaan sumber daya kearifan dan intelektual yang tersia-sia. Mereka itu adalah para kaum pensiunan.

Dengan hadirnya Internet, demikian tegas Negroponte, harta karun wawasan dan pengetahuan mereka yang kaya itu dapat ditampilkan sehingga dapat diakses oleh generasi yang lebih muda. Bahkan dapat terjadi interaksi, diskusi dan kolaborasi antarmereka. Sehingga jurang generasi yang selama ini ada dapat diminimalkan.

Kecenderungan yang positif telah mendukung cita-cita tersebut, dengan hadirnya hasil-hasil penelitian di negara maju bahwa pengguna Facebook yang menunjukkan peningkatan paling pesat justru pengguna kelompok umur di atas 50 tahun.

Manfaat besar kehadiran Internet serupa seyoganya juga harus mulai dipikirkan pemanfaatannya oleh para alumni tersebut. Tidak hanya isi dompet mereka yang ditampilkan untuk “bicara,” tetapi juga wawasan, pengetahuan, kearifan sampai keteladanan yang dapat mereka tularkan kepada adik-adik mereka. Interaksi itu dapat terjadi dalam acara kuliah umum sampai pemanfaatan media-media sosial di Internet.

Sebagai contoh kasar, misalnya seorang Anissa atau Valensia yang kelas dua SMP dan bercita-cita menjadi seorang arsitek, melalui situs sekolahnya ia dapat menelusur jejak kakak-kakak kelasnya yang kini sedang berkuliah atau sudah menekuni profesi yang ia cita-citakan.

Ia dengan teman seusianya yang bercita-cita sama dapat membaca kisah pendahulu mereka sampai melakukan obrolan, chatting, sesuai waktu yang mereka sepakati untuk dilakukan. Interaksi ini dapat dikembangkan sampai masalah bimbingan karier, memilih pekerjaan, perekrutan tenaga relawan sampai tenaga profesional di masa-masa mendatang.

Reuni kangen-kangenan antaralumni itu setiap kali hanya berlangsung satu hari. Mengenang indahnya masa-masa lalu semata. Kini saatnya ritus nostalgia itu digagas untuk bisa berlanjut. Utamanya diperkaya wawasan untuk ikut serta berkontribusi mempersiapkan adik-adik mereka dalam melangkah menuju masa depan.

Semoga.


*) Artikel ini dengan penyuntingan telah dimuat di harian Solopos, Sabtu, 3 September 2011, halaman 4.


Wonogiri, 1 Agustus 2012

Sabtu, 28 Juli 2012

Mengenang Masa Lalu, Memandu Jejak Masa Depan

Blog Alumni
Siswa-siswi SMP Negeri 1 Wonogiri
Angkatan 1969.




Bambang Haryanto
Wonogiri, 29 Juli 2012