Kamis, 19 Januari 2017

Kembali Ke Sekolah, 50 Tahun Kemudian

Oleh : Bambang Haryanto
Klas 1b2a3b Angkatan 1969

19 Januari 1967
19 Januari 2017


Hari ini Kamis, 19/1/2017, adalah tepat 50 tahun hari pertama saya dan teman seangkatan A69 masuk sekolah di SMPN 1 Wonogiri. Saya bernostalgia dengan mengunjungi sekolah kita itu. 

Menyenangkan. Antara lain saya diajari oleh adik-adik klas 9B alias 3B dalam membuat simbol "B" dengan jari saat foto bareng,  ngobrol dengan  Kepsek Pak Gino,  juga dengan  mBak Nur dan mBak Fitri di perpustakaan sekolah. 

Saya berbagi buku-buku dan poster DDC karya saya. Karya kenangan itu kini tersimpan di perpustakaan. Saya sertakan poster berupa foto berita Suara Merdeka 13/12/2016 tentang reuni kita yang lalu,  hasil reportase mas Bambang Pur. 

Juga jam tangan dari mas Gunadi yang beliau berikan kepada saya, tahun 2013. Di kemasannya saya sertakan alamat Internet, http://goo.gl/NdFKA, untuk menuju tulisan kenangan dan biodata Mas Gunadi. 

Ninggalin sedikit jejak. 
Semoga bermanfaat.

Salam B : The Best ! Sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan. Saat keluar dari perpustakaan, saya menemui adik-adik pelajar yang sedang ngerumpi di depan klas 9 B. Kalau di era saya, ruang ini adalah untuk kelas 3D.  Adik-adik ternyata murid 9B/3B dan bersedia berfoto bersama saya. Saya malah diajari untuk membuat sign, simbol jari menunjukkan huruf "B".

Bersama Bapak Kepala Sekolah. Untuk kenangan, saya menyerahkan masing-masing dua eksemplar dua buku humor politik karya saya, yaitu Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010) dan Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Imania, 2012). Kedua buku ini telah dikoleksi oleh Library of Congress di Amerika Serikat, Perpustakaan Nasional Australia dan Perpustakaan Universitas Ohio di AS. Di bagian sampul  buku-buku ini saya sertakan reuni saya di tahun 2013 dengan teman sekelas yang kemudian menjadi jenderal, Gunadi MDA.
Saya juga menyerahkan buku biografi tokoh pertambangan, berjudul Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia (KPG, 2016). Buku ini ditulis berdua, yaitu Ratih Poeradisastra dan saya. Kami berdua alumni Universitas Indonesia, walau berbeda jurusan dan fakultas.

Jam dari Jenderal. Dalam reuni tahun 2013 saya memperoleh hadiah dari teman sekelas saya di 1b dan 3b, yaitu Gunadi MDA. Hadiah itu berupa jam dan saya serahkan untuk memorabilia di sekolah kita. Untuk mengenal lebih mendalam mengenai putra asal Girimarto yang membanggakan sekolah dan kota kita, silakan mengklik disini
Poster Dewey Decimal Classification. Agar sukses, kita dituntut untuk selalu belajar. Seumur hidup. Wahana tersebut sudah ada dan gratis, adalah perpustakaan. Kebetulan saya pernah berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra (kini FIB) Universitas Indonesia. Saya telah membuat poster DDC, yang mampu memberi panduan untuk mengenali penggolongan buku-buku di perpustakaan. Poster itu saya serahkan ke perpustakaan sekolah kita. Moga bermanfaat.

Jumpa Sejawat Pustakawan. Setelah berbincang dengan Pak Gino, diantar oleh Mas Ambri, saya sempat main ke perpustakaan SMP Negeri 1 Wonogiri. Jaman saya dulu, belum ada fasilitas perpustakaan sebagus ini. Saya ngobrol sama Bu Nur dan Bu Fitri. Jadikan beliau sahabatmu untuk sukses menuntut ilmu.

Meninggalkan Jejak. Suatu kebanggaan dan kegembiraan saya bisa mengunjungi sekolah saya ini, setelah 50 tahun berlalu. Untuk merenda tanda terima kasih dan tanca cinta kepada alma mater, saya menyerahkan buku-buku karya saya. Semoga bisa menjadi inspirasi.

Gara-gara Menyontek. Di lembar sampul dari buku Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan  Untuk Kemakmuran Indonesia (KPG, 2016) saya sertakan informasi : foto rapor saya yang ada nilai merah, empat, untuk mata pelajaran Administrasi. Saya mendapat nilai jelek, karena menyontek. Justru gara-gara hal itulah saya saat ini bisa menjadi penulis. Apa  rahasianya ? Silakan baca halaman yang kanan. Silakan meniru, bila ingin ikut maju.

Sukses Untuk Kita Semua. Jangan berhenti untuk terus belajar. Imbauan itu saya tuliskan di bagian kanan atas dari poster DDC yang kini terpasang di perpustakaan sekolah.

Tambahan info :

Saya pernah memperoleh kehormatan untuk tampil sebagai bintang tamu di acara Kick Andy MetroTV, 22 Juni 2012. Berbagi gagasan untuk memajukan dunia suporter sepakbola Indonesia. Saya tampil bersama adik saya, juga alumnus SMP Negeri 1 Wonogiri, Mayor Haristanto. Silakan menikmati videonya di :


Video pertama (5/6)
https://youtu.be/slCBHIji0C8

Video kedua (6/6)
https://youtu.be/XA6TZEI5H58

Wonogiri, 19/1-27/1/2017.

Senin, 25 Maret 2013

Kita Enam Sembilan, Angkatan Kebanggaan !

Oleh : Bambang Haryanto 
Klas 1b2a3b 


"The best antiques to collect are old friends."
- Unknown

 "Friendship... is not something you learn in school.
But if you haven't learned the meaning of friendship,
you really haven't learned anything."
- Muhammad Ali

 "Every parting is a form of death,
 as every reunion is a type of heaven."
- Tryon Edwards

"You are only young once
but you can stay immature indefinitely."
- Unknown


"Work hard to bridge the gaps in geography and lifestyle,
because the older you get, the more you need the people 

who knew you when you were young."
- Unknown

Bambang Haryanto photo BambangHaryanto_575_zpsee435ac6.jpg
Bambang Haryanto 1b2a3b

Bambang Purnomo photo BambangPurnomo_575_zpsebdd45ba.jpg
Bambang Purnomo Untung Sabdodadi 1c2a3c

 Darmojo photo Darmojo_576_zps16d58a4f.jpg
Darmojo 1a

 Endang Sri Utami photo EndangSriutami_576_zpsa8fd9b84.jpg

 Gunadi photo Gunadi_575_zps9c094862.jpg

Jeanne JSB photo JeanneJSB_576_zps1e2da2c2.jpg

Kustati Sri Hariti photo Kustati_576_zpsc85647e2.jpg

 Mastuti photo Mastuti_576_zps73e48afb.jpg

Muhammad Hasyim photo MuhHasyim_575_zpsf9f8a6ef.jpg

Niniek Endang Wuryani photo NiniekEndangWuryani_Br_575_zpsa78103d5.jpg

Rosyid Wibowo photo RosyidWibowo_576_zps271a756b.jpg
Sri Djarwaningsih photo SriDjarwaningsih_575_zps548b8bf8.jpg

 Sri "Ipung" Purwanti photo SriPurwanti_575_zps0ca910e4.jpg

Sri Ruwanti photo SriRuwanti_575_zps8d3d7fc0.jpg
Sri Sutantini photo SriSutantini_576_zps67baa183.jpg

Sri Wahyuni photo SriWahyuni_575_zps488dedfc.jpg


Sunarto photo Sunarto_576_zps0189982f.jpg

 Sutarmi photo Sutarmi_575_zps45710a68.jpg

  photo Widodo_575_zpsf5bc5055.jpg  


Catatan : Urutan foto berdasarkan abjad. Bagi rekan-rekan yang belum masuk, diharapkan mengirimkan foto bersama syal yang sudah Anda ambil saat acara. Bagi rekan-rekan yang belum memiliki syal, silakan kontak Bambang Haryanto.

Kredit foto : Bambang Haryanto.

Rabu, 13 Maret 2013

Mereka, Teman-Teman Kita, Yang Tidak Terlupakan

Oleh : Bambang Haryanto 
Klas 1b2a3b


 photo A69-130310-DoaIrMuhHasyim_561_zpsf0232847.jpg

Tetap hadir di tengah kita. Di tengah suasana bergembira dalam bereuni, karena bisa bertemu dengan teman-teman lama, tetap saja ada sesuatu yang terasa hilang. Teman-teman kita ada yang tidak kita temui. 

Dalam momen yang membuat air mata kita mudah merebak, karena dibekuk rasa haru dan rasa kehilangan, Sri Djarwaningsih (1a2c3b) telah membawa kita untuk berkontemplasi. 

Kita mengenang dan tidak melupakan mereka-mereka, teman-teman kita,  yang tidak bisa hadir dalam momen membahagiakan ini. Teks selengkapnya sebagai berikut :


"Pertemuan kembali antar teman lama merupakan kebahagiaan. Tetapi karena sesuatu hal, tidak sedikit teman-teman lama kita yang tidak bisa hadir disini.


Sri Djarwaningsih
Mereka tidak akan kita lupakan. 
Termasuk teman-teman yang telah dipanggil Illahi. 
Mereka tetap menjadi bagian diri kita terukir abadi dalam kenangan kita.

Teman-teman marilah sejenak kita mengingat mereka. 
Akan saya sebutkan satu-persatu dari data yang kami miliki sampai saat ini.


Aria Nugroho
Budi "Budiman" Joko Waluyo
Dwi Anna Warpindyastuti
Esti Kuswandani
Jiyono
Sardianti
Siti Kusnijatun Hidajati
Sri Ningasih
Sri Wahyono
Sri Winarti
Sudarto
Sukarsih
Sumarno
Suparjadi
Sutarno
Tan Sing Kiat/Eko Hartanto
Toemidjem
Warsito
Yetty Yacomina Setyawati
Yunaningsih Setyawati

Ketika kita tidak mampu menjabat tangan 
atau memeluk mereka, kita masih mampu 
merengkuh mereka dengan doa. 
Mari kita berdoa."

Doa kemudian dibacakan oleh rekan Muhammad Hasyim (1a2b3b), didampingi oleh Joko Sunaryo (1d2b3d) dan Widodo Setyobudhy (1e2b3e).



Wonogiri, 14 Maret 2013

Selasa, 12 Maret 2013

Jenderal Gunadi, Belajar Sepanjang Hayat

Oleh : Bambang Purnomo
Klas 1c2a3c




WONOGIRI, suaramerdeka.com - Laksamana Madya (Purn) TNI-AL, Gunadi MDA, tampil menjadi bintang dalam reuni mini lulusan SMP 1 Wonogiri angkatan 1969. Jenderal berbintang tiga, putra asli Desa Selorejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri ini, menekankan perlunya belajar sepanjang hayat.

Kepada semua rekan alumni seangkatannya yang hadir dalam reuni di Pondok Dahar Tidar Raos Jl Kartini 61, Kedungringin, Wonogiri, diberi hadiah masing-masing dua buku secara cuma-cuma. 

Kedua buku yang dijadikan kenang-kenangan temu kangen tersebut, merupakan karya Bambang Haryanto, yang dulu pernah duduk sekelas dengan Jenderal Gunadi, saat di bangku Kelas 1 B dan 3 B SMP 1 Wonogiri.

Kedua buku karya Bambang Haryanto, itu berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau  (2010) dan Komedikus Erektus: Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (2012). 


 photo Tjipto_DSC_0116_567_zps6a19eaa8.jpg

Kedua buku ini, telah 'go international' dan dikoleksi perpustakaan terbesar di dunia. Yakni Library of Congress di Amerika Serikat, National Library of Australia, dan perpustakaan Vernon R Alden Library di Universitas Ohio Amerika Serikat.

''Semoga karyanya ini mengilhami kita semua, agar kita juga tergerak menulis buku. Syukur-syukur, tulisan kita mampu menginspirasi adik-adik kita dalam meraih cita-citanya,'' tandas Gunadi yang mantan Irjen Kementerian Keamanan dan Pertahanan RI ini.

Kata Gunadi, semangat belajar dan semangat untuk memberikan keteladanan, tidak boleh surut. Saya, tambah Gunadi, telah ikut melakukan langkah kecil untuk mendorong proses belajar seumur hidup bagi warga Wonogiri, dengan membangun Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ''Siswotrepsilo'' di kampung kelahirannya, Desa Selorejo, Kecamatan Girimarto, Wonogiri.

Kepada Bambang Haryanto, diberikan pujian sebagai teman SMP yang melangkah maju, yang tidak hanya suka membaca, tapi juga cerdas dalam menulis. Juga piawai dalam berkiprah di jaringan internet, dengan menjembatani melalui situs blog di internet, dengan alamat: http://wng69.blogspot.com.

Kepada rekan-rekannya yang menjadi kepala sekolah dan guru, diberikan banner (spanduk mini) dilengkapi foto Gunadi berpakaian dinas jenderal, yang dilengkapi tulisan pesan tentang dorongan semangat, agar para pelajar bercita-cita setinggi langit, untuk meraih sukses kehidupan. 

Dorongan semangat senada, juga disampaikan kepada rekan-rekannya yang berwiraswasta dan membuka bisnis, agar senantiasa lancar dan berkembang.

(Bambang Purnomo / CN19 / JBSM ).

Senin, 11 Maret 2013

Tetap Bergairah Walau 44 Tahun Berpisah

Oleh : Bambang Haryanto
Klas 1b2a3b



 photo Foto_Tjipto_130311_576_zps18300227.jpg  

We Are Young. Lupakan dulu masalah kolesterol, kadar asam urat tinggi atau naik-turunnya tekanan darah. Itu memang takdir bagi insan berusia mendekati 60-an. Tetapi momen bisa ketemu lagi dengan teman-teman lama, kita serasa menjadi muda kembali. "Bayangkan hal itu. Tidak bisa dinilai dengan apa pun," kata Gunadi, murid 1b2d3b, Laksamana Madya (Purn) TNI-AL, yang ngelengke, sengaja menyempatkan diri untuk terbang dari Jakarta guna mudik ke kota Wonogiri.

Dengan bertemu lagi kita mereguk kebersamaan. Kegembiraan. Sarana untuk berefleksi. Dan tentu saja menikmati gairah hidup, mengais bara api cinta lama yang tak kunjung padam, sekaligus meneguhkan diri betapa kita masih mampu memberikan manfaat bagi sesama. Setiap reuni selalu mengukirkan semangat tersebut. Kita memang menjadi muda kembali !

Keterangan gambar : (Duduk, ki-ka) : Endang Sri Utami, Mastuti, Sri Murtanti, lupa, Sri Wahyuni, Purwatiningsih dan Kustati Srihariti.

(Berdiri, baris pertama) : Sri Sudarini, Sri Sutantini, Jeanne, Sri Djarwaningsih, lupa, Surini, Sugeng Sudewo, Sutarmi, Niniek Endang Wuryani, Sri Hadi "Gembong" Pramono,Sri Ruwanti, lupa, lupa dan Umi Lestari.

(Berdiri,baris kedua) : Widodo "Dodik" Setyobudhy (kelihatan syalnya), Bambang Haryanto, Gunadi, Sugiyatno,Sri "Ipung" Purwanti,Sunarto, Tjipto Katpardiatmo,Sri Hargiyanto (mengacungkan tangan), Pranoto, Rosyid Wibowo, Isro' Michrodi, Darmojo, Muhammad Hasyim, tidak dikenali (hanya kelihatan sedikit).

Wonogiri, 12 Maret 2013

Warisan Angkatan 1969 Untuk Masa Depan

Oleh : Gunadi MDA
Laksamana Madya (Purn) TNI-AL
Klas 1b 2d 3b Angkatan 1969
SMP Negeri 1 Wonogiri 


Self-education is, I firmly believe, 
the only kind of education there is. 
Isaac Asimov (1920-1992).

Isaac Asimov benar. Ketika perkembangan iptek dunia sangat pesat dan bahkan radikal, setiap insan memang dituntut untuk terus belajar. Seumur hidup.

Tanpa belajar dirinya mudah menjadi daluwarsa, tersingkir dari peluang mengembangkan karier dan bahkan terancam degradasi kualitas hidupnya. Sayangnya, seperti yang saya amati, pola pikir masyarakat kita masih teramat praktis.

Masih berlangsung mindset kepraktisan di masyarakat kita, dimana anak disekolahkan untuk lulus dan mendapatkan pekerjaan. Setelah bekerja sudah tidak ada keinginan mengembangkan diri melalui budaya membaca. Minimnya minat baca itu lantaran kesadaran akan pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat kurang. 
 photo DSC06537_buku_566_zps2856a3c2.jpg
Saya ikut melakukan langkah kecil guna mendorong proses belajar seumur hidup itu bagi warga Wonogiri tercinta. Dengan membangun Taman Bacaan Masyarakat Siswotrepsilo, di desa Selorejo, Kecamatan Girimarto. 

Saya sungguh bergembira, ternyata ada teman SMP kita yang melangkah lebih maju. Tidak hanya membaca, tetapi  juga menulis. Selain mengelola blog sebagai sarana komunikasi angkatan kita di http://wng69.blogspot.com, isi blognya yang lain telah diterbitkan sebagai buku.

Teman kita itu Bambang Haryanto. Sama-sama sekelas dengan saya di 1b dan 3b. Bukunya berjudul  Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010) dan Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Imania, 2012).

Bukunya itu kini sudah dikoleksi  perpustakaan terbesar di dunia, Library ofCongress di Amerika Serikat, National Library 0f Australia dan Perpustakaan Vernon R. Alden Library di Universitas Ohio, Amerika Serikat.

Saya dengan senang hati, istilahnya bisa njajake kedua buku itu untuk semua teman-teman satu angkatan 1969 SMP Negeri 1 Wonogiri yang hadir di acara Temu Kangen 2013 ini.

Semoga karyanya mengilhami kita semua, untuk juga tergerak menulis buku. Atau bareng-bareng kita menerbitkan antoloji, kumpulan tulisan, berisi hal-hal menarik, lucu atau pun konyol ketika kita bersekolah dulu.

Syukur-syukur ada juga tulisan yang mampu menginspirasi adik-adik kita dalam mereka meraih cita-cita yang luhur dan mulia. Juga sebagai catatan abadi betapa saat bersekolah dulu kita jalani dengan penuh suka dan duka, sekaligus  banyak pengalaman berharga yang dapat kita wariskan. 

Semoga bermanfaat.



Wonogiri, 10 Maret 201

Minggu, 10 Maret 2013

Temu Kangen 2013 Kita Di Media : Semangat Belajar Tidak Boleh Surut

Oleh : Bambang Purnomo
Wartawan Harian Suara Merdeka

Klas 1c2a3c



WONOGIRI - Usia boleh bertambah, tapi semangat untuk terus belajar dan memberi keteladanan, tidak boleh surut. Demikian benang merah spirit yang ingin dirangkai dalam acara temu kangen 2013 keluarga besar angkatan 1969 SMP Negeri 1 Wonogiri.

”Acara temu kangen akan digelar Minggu (10/3), di Pondok Dahar Tidar Raos Jl Kartini 61, Kedungringin, Wonogiri,” kata Bambang Haryanto dari Departemen Kreatif dan Komunikasi kepanitiaan reuni Angkatan 69. 

Bambang berharap pemberitaan ini dapat dianggap sebagai undangan. Salah satu inspirator acara berbungkus nostalgia ini, adalah Laksamana Madya (Purn) TNI-AL, Gunadi MDA. Putra asal Desa Selorejo, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri ini, memiliki perhatian tinggi terhadap pentingnya budaya membaca dan perlunya menjalani pendidikan seumur hidup.

Menurut mantan Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Pertahanan dan Keamanan, Laksdya (Purn) Gunadi, saat ini masih terjadi pola pikir kepraktisan di masyarakat. Yakni, anak disekolahkan, lulus, dan bekerja. Setelah bekerja sudah tidak ada keinginan mengembangkan diri melalui budaya membaca.

Karena itu, dia membangun Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ”Siswotrepsilo” di Desa Selorejo, sebagai kampung kelahirannya. Untuk memotivasi mantan rekan-rekan se­kolahnya agar terus belajar dengan membaca, Gunadi mem­borong buku karya salah seorang teman sekolahnya di SMP Negeri 1 Wonogiri angkatan tahun 1967-1969. 

Ketua panitia penyelenggara temu kangen, Niniek En­dang Wuryani menambahkan, reuni mini ini selain untuk kon­solidasi data alumni angkatan 69, juga dilakukan pendekatan manajemen ilmu pengetahuan. 

Untuk menghilangkan kesenjangan, Bambang Haryanto menjembatani melalui situs blog di internet dengan alamat: http://wng69.blogspot.com. 

(P27-37).

Berita ini dimuat di Harian Suara Merdeka, Rabu, 6 Maret 2013 : Hal. 18 - Edukasia. Ditulis oleh rekan kita Bambang Purnomo Untung Sabdodadi yang sebagai wartawan harian Suara Merdeka memiliki inisial P27. Tautan :
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/03/06/217441/16/Semangat-Belajar-Tidak-Boleh-Surut

Senin, 25 Februari 2013

"Are You Sleeping, Brother John ?" Dalam Catatan Kenangan Seorang Jenderal Asli Wonogiri


Oleh : Gunadi MDA
Laksamana Madya (Purn) TNI-AL

Klas 1b/2d/3b
SMP Negeri 1 Wonogiri 1967-1969



Sekolah kebanggaan. Setelah resmi pensiun dari Irjen Kementerian Pertahanan pada bulan Maret 2012 , agenda penting pertama di awal sebagai pengangguran adalah melaksanakan safari darat. 

Menjelajah dari Jakarta ke Surabaya melalui kampung halaman di desa Selorejo Girimarto Wonogiri dalam rangka bernostalgia.  

Kenapa demikian, karena Wonogiri adalah tanah tumpah darah tercinta. Sedang Surabaya adalah rumah kedua. Sepanjang 25 tahun umur saya terlewati di Kota Buaya itu. 

Mulai dari saat masuk pendidikan di Akabri Laut tahun 1974 hingga berdinas di Angkatan Laut, diantaranya 17 tahun sebagai penerbang TNI AL.   

Tahun 1997 meninggalkan Surabaya ke Sri Lanka sebagai Atase Pertahanan. Kembali lagi ke Surabaya sebagai Komandan Lantamal pada tahun 2004.   Baru pada tahun 2006 pindah tugas ke Jakarta hingga pensiun.  

Safari kenangan di desa sudah barang tentu merupakan momen yang “sesuatu” banget.    Ketemu saudara, kawan lama, mengunjungi tempat-tempat berkesan dan ngelamunin masa lalu.   Di Wonogiri, sasaran kunjungan terpenting adalah sekolah yang sama-sama kita banggakan.   

Sayang saat itu belum kenal blog  wng69.blogspot.com ini, sehingga belum bisa merancang acara ketemu teman-teman.    Selama sekitar 7 tahun di Jakarta, teman SMP yang pernah ketemu cuma mas Dewo dan mas Gembong serta mas Singgih yang beberapa kali nyambangi ke rumah.   


Satu hal yang sangat berkesan saat di Wonogiri, ternyata di open lobby Hotel Diafan, pemandangannya luar biasa.   Saya dan istri sempat berpose sambil menikmati pemandangan yang sangat bagus, merasa seakan bukan di Wonogiri tapi di tempat indah entah dimana.

Masa-masa SMP. Berangkat dari desa Selorejo melanjutkan studi ke Wonogiri diantar ibu, mondok di rumah rekan kita Budiman (alm) di Juranggempal  masih jelas di ingatan.   Anak desa yang jarang pergi, umur 12 tahun, sudah harus berpisah dengan orang tua. Malam hari setiba di Wonogiri, diantar Budiman kerumah pak Hartoyo (Kepala Sekolah) mengantar oleh-oleh makanan desa (jadah, wajik dll). Kebiasaan di desa dibawa ke Wonogiri.  
 

Selama di SMP tidak banyak peran yang saya mainkan, karena setiap Sabtu siang, setelah selesai pelajaran, buru-buru nyari kendaraan pulang ke desa.   Nunggu kendaraan di depan Gudang Garam, dapat bus kalau beruntung, naik truk yang lebih sering.    Dengan demikian selama 3 tahun tidak banyak tempat di sekitar Wonogiri yang saya akrabi. 
     
Tetapi ingatan kepada Pak Gon yang ngajari nyanyi “Are You Sleeping,” Pak Suyadi (Suyadi B ?- Betul. BH) yang sering ke rumah dakwah agama Kristen,  Pak Margono yang waktu ujian masih sempat membetulkan jawaban saya, dan guru lainpun masih ada yang nyantol di kepala.   Barangkali memang tidak sejelas ingatan rekan-rekan, karena setelah lulus SMP langsung kabur jarang pulang kampung.   


Melanjutkan SMA di Bandung, karena bapak almarhum minta saya nantinya masuk ITB jadi insinyur, walau pun akhirnya malah belok jadi tentara.    Anak pertama saya yang akhirnya meneruskan cita-cita ayahnya ke ITB.   Sayang selama di Bandung dia tidak sempat ketemu mas Nurdin walaupun berkali-kali saya minta untuk mencari.   Mungkin segan karena tidak satu jurusan.
 

Pengalaman di Pekerjaan.  Tantangan dan gemblengan selama masa kecil di Wonogiri, ternyata menjadi modal yang sangat berarti bagi karier saya selanjutnya. Selama menjadi tentara maupun setelah berada di Kementerian Pertahanan (sebagai Dirjen Perencanaan Pertahanan, Dirjen Sarana Pertahanan dan Irjen), saya tidak pernah menghadapi masalah, karena masa kecil saya ibarat sudah berada di Kawah Candradimuka.   

Hidup penuh perjuangan dan serba kekurangan selama di Wonogiri, menjadikan saya orang yang tahan banting, tahan tekanan dan tahan godaan di pekerjaan. Kondisi Wonogiri yang dulu tandus, miskin, penuh tantangan, menurut saya justru merupakan berkah tersendiri.  
 

Pada kesempatan memberikan sambutan di satu acara pertemuan warga Wonogiri di Jakarta (hadir para Dirjen, Sekjen, pengusaha dan tokoh-tokoh asal Wonogiri lainnya, juga Bupati saat itu pak Begug) saya sampaikan bahwa kondisi Wonogiri mirip dengan China dekade 70-an.   

Hidup serba susah karena tanahnya gersang.   Kalau dengan kondisi demikian China akhirnya bisa melahirkan orang-orang yang ulet dan sukses, mestinya Wonogiri juga bisa.   Itu akan terbukti apabila orang Wonogiri berbaur dan bersaing dengan orang dari daerah lain yang kondisinya  lebih baik.  
 

Bukan mau menyombongkan diri, tetapi saya merasa bahwa saya sudah membuktikan premis tersebut.   Dulu saya di Wonogiri tidak pernah bisa berprestasi apa pun.Di SMP, belajar hanya kalau liburan minggu tenang persiapan ujian.   Itu pun belajarnya di bawah pohon kelapa di pinggir Bengawan Solo.   Bagaimana mau pinter ?   Setelah berada di SMA dan sekolah lainnya (setelah SMP masih melalui 9 sekolahan), dimana belajar merupakan keharusan, ternyata anak Wonogiri tidak kalah dengan anak lainnya.  
 

Saya yang waktu di desa dulu sering makan tiwul dengan ikan asin, sewaktu di SMA dikenal bukan saja oleh teman seangkatan, tetapi juga oleh kakak-kakak dan adik kelas karena hasil kerja saya untuk sekolah. Sekarang pun masih menjadi Pelindung Alumni SMA. Di Korps di Akabri, di Sekolah Komando Kesatuan TNI AU, di Seskoal, bahkan di Lemhannas, saya berhasil lulus di urutan pertama.   
 

Saya hanya salah satu putra Wonogiri yang menjadi jenderal.   Masih banyak jenderal lain dari Wonogiri.  Putra-putri Wonogiri yang sukses di bidang lain juga sangat banyak.   Di Jakarta ada beberapa ikatan keluarga Wonogiri, salah satunya adalah Pakari. Pakari (Paguyuban Keluarga Wonogiri), dimana saya sebagai pelindung, juga merupakan wadah putra-putri Wonogiri yang sukses di Jakarta.   

Pakari terus berbuat untuk tanah kelahiran, Wonogiri. Pada ulang tahun Wonogiri beberapa tahun lalu, selain ikut program penghijauan, Pakari memeriahkan dengan berbagai acara, diantaranya mendatangkan beberapa pesawat terbang militer untuk melintas saat acara ulang tahun di Wonogiri dan olah raga air di Waduk Gajah Mungkur dipimpin prajurit-prajurit Marinir TNI AL.   


Setiap hari raya, Pakari mengusahakan bus untuk warga Wonogiri mudik gratis.  Di musim kering tahun 2012 Pakari menyumbang air bersih untuk daerah Wonogiri Selatan. Dan yang sedang berjalan, Pakari mendirikan Taman Bacaan Masyarakat di desa-desa. Saya sendiri telah menyumbang satu perpustakaan di desa yang diresmikan Bupati Danar Rahmanto.  
 

Di Pakari, saya pernah mengupayakan untuk membuat satu buku kisah sukses warga Wonogiri perantauan.   Buku ini rencana dibagikan ke sekolah-sekolah di Wonogiri untuk memacu motivasi anak-anak agar lebih maju.   Warga sukses bukan hanya diartikan yang berhasil jadi jenderal, Sekjen, Dirjen atau pejabat lainnya.   Warga sukses juga termasuk profesi-profesi lain seperti usahawan, misalnya pedagang bakso yang berhasil menasional.  
 

Bakso pak Slamet “Titoti” asal Ngadirojo sudah banyak memiliki cabang besar di Jakarta.   Bahkan “Bakso Lapangan Tembak” yang memulai jualan dengan pikulan saat ini telah memiliki lebih dari 140 cabang. Mereka termasuk profil sukses yang perlu kita ceritakan karena telah memajukan ekonomi daerahnya dan mengharumkan nama Wonogiri. Pakari juga sedang merencanakan mendirikan perguruan tinggi di Wonogiri. Siapa mau partisipasi?


 photo Gunadi2_575_zps65328b62.jpg  


Keluarga yang adem-ayem. Bukan karena Wonogiri kekurangan gadis cantik, tetapi Tuhan menakdirkan saya berjodoh dengan orang Sumatera.   Walaupun demikian, bahasa Jawanya tidak kalah dengan orang Wonogiri asli.   Kalau pun pada awal perkawinan sering terjadi salah pengertian kalau saya berbicara bahasa Jawa, itu dulu.   

Dua anak, laki-laki dan perempuan juga telah melengkapi kehidupan saya.   Dua cucu yang manis-manis menambah semaraknya hari tua yang saya jalani.   

Alhamdulillah anak-anak tidak pernah mengenal dugem, rokok, apalagi narkoba, walaupun mereka anak seorang Jenderal, hidup di kota besar, termasuk tinggal tahunan di luar negeri.    Satu hal lain yang kami miliki adalah kedekatan dan kekompakan.   Walaupun mereka sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing, tetapi selalu ada momen bersama setiap minggu.    Makan diluar selalu bersama, keluar kota, selalu berdelapan, makanya ada niat beli minibus yang muat 8 orang, supaya kebersamaan ini tidak ada jaraknya.    


Pensiun bukan berarti akhir dari segalanya.   Pepatah mengatakan  life begin at forty.    Saya memodifikasi menjadi life begin at fifty eight.   Setelah pensiun di usia 58 saya memulai karier baru. Berkebun, bisnis kecil-kecilan, dan membantu teman di perusahan sebagai Preskom, termasuk menjadi komisaris di perusahaan milik pengusaha sukses asal Wonogiri.   


Biar tua, juga harus sehat, jasmani dan rohani.   Renang, sepedaan, golf, karaoke, main saxophone, ditambah dengan membuat komunikasi dengan teman-teman lama, terutama nantinya dengan teman-teman angkatan 69 SMPN I Wonogiri. 

Kebersamaan di SMPN 1 Wonogiri dengan rekan-rekan telah pula mengisi memori saya, dan semoga kebersamaan akan terulang di waktu mendatang.  Terima kasih mas Bambang, yang telah menyediakan wadah bagi kita untuk bisa bersilaturahmi melalui dunia maya. Salam buat rekan-rekan dan keluarga.   

Kita doakan mereka yang telah lebih dulu menghadap Yang Kuasa, semoga diberi tempat yang paling indah di sisi-Nya. Jangan lupa, kitapun sudah dalam antrian.   Sambil ngantri, mari kita isi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan bagi sesama.   Amin.       

Terima kasih almamater, terima kasih para guru, jasamu tidak akan pernah mampu saya balaskan.





Jakarta, 26 Februari 2013   
(hari ulang tahun saya ke 59)