Jumat, 18 Januari 2013

19 Januari 1967 : Menanam Cinta di Hari Pertama


Oleh : Bambang Haryanto 1b2a3b
Email : wonogirikita (at) gmail.com


Bicaralah kepada wanita. "Otak perempuan itu penuh misteri, apalagi dalam keadaan seperti ini. Kau harus memberinya perhatian secara penuh. Mengajak mereka bicara, secara cerdas dan serius. 

Belai mereka. Ingat kehadirannya, mereka itu hidup dan mereka itu penting bagi kita. Itulah satu-satunya terapi. Saya tahu berdasar pengalaman."

Dialog itu disampaikan oleh tokoh Benigno Martín yang diperankan oleh bintang film dan televisi Spanyol bernama Javier Camara (foto, kanan) dalam film Talk to Her (2002) karya sutradara  kharismatis Pedro Almodovar. 

Ini film indah tentang terpilinnya kehidupan empat orang dalam adonan obsesi, cinta, persahabatan dan rasa putus asa. Titik sentralnya bagaimana dua orang pria, wartawan dan dokter, berusaha berkomunikasi dan berinteraksi dengan wanita-wanita tercintanya, matador perempuan dan penari balet muda, yang keduanya berada dalam kondisi koma.

Apa kaitannya dengan diri kita ?
Secara langsung tidak ada.

Hanya saja aktor Javier Camara itu lahir di Albelda de Iregua, La Rioja, Spanyol, bertepatan dengan saat kaki-kaki kita pertama kali menginjak ruang kelas satu di SMP Negeri 1 Wonogiri. Tanggalnya 19 Januari 1967. Harinya, Kamis. 


Pada hari yang sama di belahan dunia lain, di Inggris, kelompok musik The Monkees menempatkan lagunya I’m A Believer sebagai lagu nomor wahid di tangga-tangga lagu pop Inggris. 

Hari itu pula di Studio Two, EMI Studios, Abbey Road, kelompok The Beatles sedang merampungkan nomor terakhir dari album Sgt Pepper's Lonely Hearts Club Band untuk lagu  A Day In The Life yang memerlukan take sampai empat kali.

Kembali ke sekolah kita. Hari itu adalah tepat hari ulang tahun dari teman kita Sri Hastuti 1c2a3d, teman satu kelas di kelas dua dengan saya. Kelahiran Sukoharjo, 1953. Putri dari Mardiwiryono, pegawai Kecamatan Wonogiri.

Tinggalnya di Kajen, Giripurwo, Wonogiri. Sekampung dengan saya. Tetapi maafkan aku , Sri Hastuti, saya butuh bantuan banyak teman agar saat ini saya bisa mampu kembali mengingat dan mengenalimu.

”Di mana pun kini kau berada, temanku Sri Hastuti, saya ucapkan selamat hari ulang tahun. Kau beruntung, memiliki dua momen bersejarah dalam hidupmu. Semoga rahmat Tuhan senantiasa melimpahi hidupmu.”

Pertemanan jangan dilupakan. Tanggal 19 Januari 1967 itu, tentu saja, banyak dari kita alumni Angkatan (lulus) 1969 yang melupakannya. Saya juga lama sekali melupakannya. Barulah pada tanggal 6 Agustus 2012,  ketika saya mampu memperoleh data murid SMP Negeri 1 Wonogiri Angkatan 1969, tanggal itu muncul di radar perhatian.

Muncul pula gagasan di kepala saya untuk mengadakan upacara kecil untuk sekadar memperingatinya. Bersama teman-teman yang masih bisa dijangkau, yang berdomisili di Wonogiri.  Untuk itu saya mencoba menjual gagasan berikut ini kepada teman-teman :

“Pagi, Niniek. Minta pendapatmu. Tgl 19 Jan 1967 adlh hr resmi pertama kita msk di SMPN1. Aku usul dijdkan ultah A69. Ok ? Oh ya, sepatumu pas SMP spt yg kuingat, bener ga ? “ (SMS saya ke Niniek Endang Wuryani 1a2c3a, Kamis, 17 Januari 2013 : 09.59.42).

Niniek (foto) berbaik hati menjawab : “Trus nek dadi ultah e A 69, arep di piyekke meneh klanjutannya kan aq ra ngerti mBang, jd sebaiknya anda aja yg bikin acara n rncana atau proposal, mengko di rembug bareng2 karo ketuane jg.” (Balasan Niniek Endang Wuryani, Kamis, 17 Januari 2013 : 10.33.24).

“Tks, Nik. Aku se7 sm alur pikirmu. Ttp krn tgl 19 itu 2 hr lg, qta tdk bs adakan acr besar. Kita bs urunan, bkn acr potong tumpeng + berdoa di PDnya mBak Darini. OK ? “ (Ke Niniek, Kamis, 17 Januari 2013 : 10.59.08).

“Pagi, Dewo. Minta pendapatmu. Tgl 19 Jan 1967 adlh hr resmi pertama kita masuk di SMPN1. Aku usul tgl itu dijdkan ultah A69. Kl se7 mohon  kabar2 ke teman2 ya. Ada ide ? “(Ke Sugeng Sudewo 1a2c3a, Kamis, 17 Januari 2013 : 11.04.58).

“Pagi, mBak Rini. Tgl 19 Jan 1967 adlh hr resmi pertama kita masuk di SMPN1. Sy usul tgl itu dijdkan ultah A69. Kl se7 sy ajak tmn2 urunan potong tumpeng di PD Anda.”(Ke Sri Sudarini 1b2c3b, Kamis, 17 Januari 2013 : 11.09.55).

Balasan mBak Sri Sudarini (foto), bukan main : "Mas maaf baru diblas tadi lagi didpr mask. Klo ultah 69 monggo aja diatur tapi jangan siang saya ada cooking class di Lorin. Jadi bisanya mlm, klo jadi tlng bsk udh ada kepastian biar saya bisa siapin tmpng nya. Klo saya mau diksh buku senang sekali cmn klo disrh mlh itu yg bingung krna blm tau jadi yg mana aja. Klo hari ul tah wah saya lupa he..he…jangan marah ya." (Kamis, 17 Januari 2013 : 13.42.30).

Matur nuwun, mBak Rini. Saya juga kirim sms ke Sri Hadi “Gembong” Pramono (foto) di Jakarta dan E. Liliek Dwi Sularyanto. Gembong baru membalas kemudian, tapi balasan dari Liliek menarik untuk kita perhatikan :

“Wah ini tadi saya iseng2 dikantor buka2 blog anda. Dan mau komen sdh keburu diajak istirahat siang teman2. Prinsip saya setuju Ikasari 69 dikelola lagi secara baik, tapi usulan kami mengingat banyak teman2 yg diberi talenta scr professional, alangkah baiknya kita bisa membuat program usulan untuk kemajuan daerah. 

Kita hubungi teman2 spt Nurdin, Edi Darmojo, dll. Untuk program yg sifatnya hura2 cukup diserahkan sama ahlinya saja. Tks.” (Kamis, 17 Januari 2013 : 11.54.43).

Pendapat yang merangsang untuk kita fikirkan. Tidak mudah bagi saya pribadi untuk menjawabnya. Karena kegiatan alumni itu bisa sangat beragam, luas dan bukan kegiatan yang remeh. Misalnya dari hal berorganisasi guna mengurus interaksi antarwarga alumni itu sendiri, berkegiatan untuk sekolah kita yang lama, sampai berkiprah untuk masyarakat luas. Saya menemukan rujukan untuk bisa kita jadikan perbandingan : disini, disini dan disini.

“Tks, Mas Liliek. Smg kelak sy bs ikut bantu2 realisasi program2 Ikassari, semampu saya lho. Kl brkenan slkn email agr bs sy pajang di blog sederhana+hura2 itu. Salam.” (Dari Bambang Haryanto, Kamis, 17 Januari 2013 : 12.07.38).



Gagasan untuk kita semua. Terima kasih untuk atensi teman-teman tersebut. Ide mengadakan acara tumpengan untuk mengisi perayaan ulang tahun kita saat pertama kali masuk sekolah 46 tahun yang lalu itu memang gagal. Semua itu terjadi karena kenaifan dan kesalahan saya.

Rookie mistake. Kesalahan pemula. Oleh Niniek yang Bu Lurah A69, dalam beberapa interaksi,  memang saya sering dia sebut sebagai novice atau orang baru dalam blantika interaksi Alumni 69 di Wonogiri. Dan itu memang benar adanya. 

Kilas balik : Saya baru bergabung saat berlangsungnya reuni mini di Pondok Dahar Tidar Raos, 22 Agustus 2012. Gembong yang menarik-narik saya. Aktivitas  terakhir bersama teman-teman A69 baru terjadi tanggal 13 Januari 2013. Ketika itu di hari Minggu pagi, pada menit-menit terakhir, saya ditelepon Niniek untuk ikut tur dan menjadi tukang foto aktivitas sebagian A69 untuk  tilik rekan kita Hajariati Mufidah 1b2d3a di Plumbon, dekat Bekonang, Sukoharjo. Kakak ipar dari teman kita Rosyid Wibowo 1c/2c/3c itu menjalani pemulihan dari sakit strokenya.

Apakah dalam tur yang pertama kali saya ikuti itu saya lulus sebagai orang baru ? Anggota senior komunitas A69 Wonogiri, Sri Djarwaningsih (foto) yang menjadi guru klas VI SD Negeri 2 Giripurwo di Wonokarto (saya pernah mengunjungi sekolahnya, 3 November 2012), menulis komentar lewat sms : 
 

“Satu : Untuk keserasian itu tergantung. Untuk kelulusan, kalau boleh aku jadi tim penilai, Anda LULUS dgn kategori B+ . Mngp? Dr pengalaman acr bareng2 Anda paling tdk pernah dicerca. Justru sebaliknya. Karena semua ngerti Anda “genius” dalam tampilan pola pikir dan pola bicara mantap.” (Kamis, 17 Januari 2013 : 18.38.55.) 

Bu guru anggun, bijak dan kalau bicara senantiasa terukur ini rupanya sedang berhiperbola. Anda tahu mengapa saya mendapatkan sebutan “genius” itu ? Karena saya telah menyuap Niniek dan ibu guru yang hobi membaca ini dengan buku yang menjadi koleksi Library of Congress di AS ini. 

Begitulah, ide ketemuan untuk tumpengan, gagal. Tak mengapa. Namun tetap banyak hal yang membahagiakan saya. Karena berkat penemuan tanggal itu saya tergerak mengontak lagi banyak teman. Ikhtiar kecil itu adalah upaya saya agar pertemanan antara kita itu, entah dengan cara apa, menjadi tidak terbengkalai dan menjadi terlupakan.



Mencari cara lebih baik. Esensi dan niatnya tetap dan tidak berubah. Yaitu upaya mengenang kembali sejarah yang terjadi tanggal 19 Januari 1967 itu. Tetapi kini dicarikan cara yang lebih luwes, lebih rada-rada kreatif dan terjangkau oleh semua alumni di mana pun mereka berada. 

Yaitu ajakan pesta berkirim-kiriman SMS berupa salam antarkita di hari Sabtu ceria itu. Untuk menandai di hati masing-masing mengenai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita 46 tahun yang lalu itu.

Ajakan pertama saya kirimkan kepada rekan Bambang Purnomo Untung Sabdodadi 1c2a3c (foto, kanan). Di Wonogiri ia terkenal sebagai wartawan senior daerah untuk harian Suara Merdeka.

Dia teman sekelas saya di 2a. Tahun 1975-an saya dan dia pernah melakukan perjalanan jurnalistik ke Tirtomoyo. Saat itu Indonesia heboh tentang bodem corrector, suatu “bangunan ajaib” di tengah tegalan gersang. Konon dari bangunan itu mampu memancarkan sinar berkualitas tertentu yang mampu membuat tanaman sekitarnya menjadi subur.

Saat kami berkunjung, hal sebaliknya yang tersaji. Ini jelas hoax, pikir kami. Bambang Pur kemudian menulis untuk korannya, saya menulis laporan panjang untuk majalah Variasi, Jakarta. Isu
bodem corrector itu lalu lenyap ditelan waktu dan sejarah.

Ketemuan saya yang berikutnya cukup bersejarah. Karena terjadi di komplek sekolah kita, SMP Negeri 1 Wonogiri (foto). Ketika itu bupati Danar Rahmanto (A 1981) yang baru saja terpilih dan siswa-guru SMPN 1 atas prakarsa Mayor Haristanto (adik saya) mengadakan acara temu wicara di aula sekolah kita. Usaha bernostalgia, tidak maksimal. Karena bangunan klas saya yang 1b sudah musnah, kelas 3 b juga demikian, saya hanya bisa melongoki dari luar klas 2a saja saat itu.

Hari Kamis, 17/1/2013, saya dapat rejeki nomplok lagi. Kebetulan kami ketemuan di pasar. Kami sempat mengobrol tentang rekan kita Hajariati Mufidah 1b2d3a yang sedang menjalani pemulihan sakit strokenya. Saya meminta kartu namanya (yang lama ketlisut) dan saya sorenya mengirimkan sms sebagai berikut kepadanya :

"Tgl 19 Jan 1967 adalah hr resmi pertama kita msk di SMPN1. Mr dijdkan ultah A69. Kl se7 mohon say hello pd hr itu ke teman2 A69 yg msh Anda kenal hg saat ini :-)." (Kamis, 17 Januari 2013 : 16.22.02).

Bambang Pur membalas singkat : Ok.
Matur nuwun, Mas Pur.

SMS yang sama segera saya kirimkan kepada 16 teman lainnya yang meliputi  : Eddy Darmodjo,  E. Liliek Dwi Sularyanto, Gatot Sasongko, Muhammad Hasyim, Muhammad Nurdin, Niniek Endang Wuryani, Pranoto, Singgih Sisworo, Sri Djarwaningsih, Sri Hadi Pramono,  Sri Harno, Sri Ruwanti (foto), Sri Sudarini, Sugiyatno, Sugeng Sudewo  dan Tjipto Katpardiatmo.

Hari Jumat (18/1/2013) terkirim SMS 6 teman lainnya, kepada : Bambang Sadoyo, Hajariati Mufidah, Kustati Srihariti, Sri Purwanti, Sutarmi dan Widodo. Untuk  hari Sabtu (19/1/2013)  saya kirimkan sms ke Rosyid Wibowo.

Melalui Facebook saya ceritakan selintas sejarah 19 Januari 1967 itu kepada Yesiana Arimurti dan Nur Hanafi Rosly. Yesiana adalah putri dari almarhumah rekan kita Sri Winarti dan almarhum Jiyono. Sedang Nur Hanafi Rosly adalah putra dari Hajariati Mufidah. Kebetulan keduanya menjadi teman saya di Facebook.

Dari Jakarta pada hari Sabtu (19/1/2013) saya memperoleh kabar bagus dari Sri Hadi “Gembong” Pramono. Ia telah berbaik hati berbagi kabar mengenai gagasan hari ulang tahun angkatan kita itu ke banyak teman. Daftar nama yang dikontak Gembong meliputi :

Bagyo, Eddy Darmodjo,  Edi Nugroho,  Gunadi (Laksamana Madya AL),  Rudini, Singgih Sisworo, Sri Djarwaningsih,  Sri Hargyanto, Sri Harno,  Sugeng Sudewo,  Tjipto Katpardiatmo, Urip Budiono, Widodo dan Widodo Setyobudi.

Adanya nama yang saling saling tindih dengan daftar yang saya miliki, tidak menjadi masalah. Itu hanya menunjukkan hasrat kita untuk berbagi. Matur nuwun, mBong

Komentar menawan. Terima kasih untuk beberapa rekan yang telah berkenan  memberikan umpan balik. Selain Bambang Pur di atas, tercatat beberapa teman yang telah berbaik hati. Ada yang singkat dan ada juga yang kaya warna seperti yang dikirimkan oleh Muhammad Hasyim.

Inggih nwn.”
(Pranoto, Kamis, 17 Januari 2013 : 16.39.51).

“Ok.”
(Eddy Darmodjo, Kamis, 17 Januari 2013 : 16.45.51).

“Yoi…se7.”
(Dari Sri Ruwanti,Kamis, 17 Januari 2013 : 16.49.15).

“OK teman, ide bagus. Thanks. Pagi juga mas Bambang, aku juga bersyukur pisah sekian lama sama temen2 ketemu masih spt yg dulu. Moga tetap terjalin mesra diantara kita semua.” (Sri Purwanti,foto, Jumat, 18 Januari 2013 : 19.58.50 & Sabtu, 19 Januari 2013 : 09.09.22).

Bravo angkatan 69 SMPN 1 Wonogiri, sy salut msh ingat hari2 penting, tks kami diingtkn ke memory masa lalu, sukses selalu walaupun kita2 semua sdh menginjak usia tua, ttp semangat msh tinggi.” (Muhammad Hasyim, Kamis, 17 Januari 2013 : 19.10.07).

“sorri mBang, wingi aku asyik nonton seputar banjir Jkt, usulmu aku setuju banget.. jadi ultah A69 kita tetapken tg 19 Januari.” (Sri Hadi Pramono, Jumat, 18 Januari 2013 : 06.16.16).

Saya tambah bergembira ketika nama Gunadi muncul dalam smsnya Gembong. Di Internet, perjalanan kariernya mudah dilacak dan menerbitkan kebanggaan. Ketika sama-sama duduk di klas 1b, saya agak dekat berteman dengan Gunadi. Selain Sri Harno, ia juga terampil bermain sepakbola. 

Tak jarang saya main ke tempat kos Gunadi, yang tidak lain adalah satu rumah dengan Budiman Joko Waluyo 1a, di Juranggempal. Putra dari Bapak Siswotrepsilo, guru SD di Selorejo, Girimarto, nampaknya masih punya hubungan famili dengan rekan kita (yang suka gojek), almarhum Budiman tersebut.

SMS Gembong berbunyi : “mBang, iki sms soko Gunadi (foto) ‘Mas Gembong posisi dimana ? Terima kasih infonya, sangat menyentuh. Beberapa bulan lalu saya dengan istri mampir nostalgia di sekolah kita dulu.’  Akeh sing tak sms hari ini, dg tanggapan senada, pokoke setuju mBang. “(Sri Hadi Pramono, Sabtu, 19 Januari 2013 : 18.32.01).

“Ya syukurlah mBang, respons bgs dr tmn2 luar Wng, tp dr tmn2 Wng sendiri bnyak yg stuju apa cuek ? Tp memang benar bahwa si perantau itu pasti lebih tersentuh dan sensitif dgn kmpng halaman dan ms lalu, terusin mBang, ide2 mu yg brilian tntang kwn2 sklah kt, aq slalu support.” (Niniek Endang Wuryani, Sabtu, 19 Januari 2013 : 20.03.23).

“Maturnuwun senggolannya. Sy rosyid wibowo-1c2c3c, selain warga mandungan, kt ingat sama2 dr kajen wng. Salam. (Sabtu, 19 Januari 2013 : 21.18.54).”

Tak terlupakan. Apa sesudah ini ? Saya sendiri tidak tahu. Mungkin juga akan tidak ada apa-apa. Bagi saya, itu semua tidak menjadi masalah yang perlu dirisaukan. 

Tanggal 19 Januari 1967 memang sudah terlalu lama untuk bisa dibangkitkan kembali secara jelas dalam ingatan kita. Sebagian besar wajah-wajah teman bersekolah kita jaman itu juga sudah sulit untk dikenali dalam layar kenangan.

Tapi toh tetap ada hal-hal tertentu yang istimewa dalam ingatan. Misalnya, sepedanya Widodo "Dodik" Setyobudi (foto) yang berbunyi cik-cik. Gembong ingat hal serupa :  sepedanya Suprapto juga berbunyi cik-cik

Iseng-iseng saya menebak bentuk sepatunya Niniek yang tidak memiliki tutup tumit selain tali kulit pengencang. Hari ini si pemilik sepatu itu 46 tahun kemudian membenarkannya.

Hal lain yang lebih penting, misalnya tentang nyanyian atau pun isi pesan mars SMP Negeri 1 Wonogiri, terus terang justru saya sudah lupa. Saya beruntung berteman dengan Kustati Srihariti dan Sri Djarwaningsih.
Ketika kami tur untuk tilik rekan kita Hajariati Mufidah di Plumbon, Sukoharjo, di dalam mobil yang disetir Sri Sudarini, keduanya masih mampu menyanyikannya dengan baik.

Kemampuan keduanya seperti mengingatkan dialog dalam film Talk to Her (2002) tadi, betapa otak perempuan itu misteri. Termasuk misteri yang terkuak ketika saya mampu melihat Niniek tergelak-gelak dengan ceria ketika diingatkan masa lalu yang indah. Waktu pun segera melesat ke masa lampu, masa yang mudah mengingatkan diri kita ketika ia menjadi primadona saat kita bersekolah dulu.


Kita dalam koma ? Selain potongan kisah-kisah manis di atas, dengan mengambil tamsil film Talk to Her (2002) pula, secara gegabah dan sembrono saya berani mengibaratkan betapa alumni angkatan kita itu sebagai perempuan cantik yang sedang dalam keadaan koma. 

Sesekali dirinya tersadar seperti ditunjukkan dengan penyelenggaraan reuni di tahun 1999 dan 2003. Aktivitas yang patut diapresiasi. Atau pelbagai kegiatan humanistik yang dijalani sebagian kecil warganya. Tetapi potensi besar dan menawan yang berada di dalam dirinya belum sepenuhnya tergali dan muncul. Bahkan untuk menyapa atau berinteraksi dengan adik-adik kita yang masih belajar atau pun angkatan lain, sampai saat ini masih sebagai angan-angan belaka.

Kita masih berorientasi ke dalam. Itu pun juga tidak mulus. Saya sebagai orang baru, yang terbiasa bergaul dalam budaya Internet yang postocracy, harus pandai-pandai mlipir atau meniti buih dalam upaya meng-golkan gagasan. Di Internet, Anda tahu, Anda dinilai peselancar lain berdasar postingan Anda. Utamanya ide dan cara penyampaiannya. Pangkat, kekayaan, sampai status sosial yang mem-posting pesan itu tidak penting.

Tetapi di dunia interaksi antaralumni, budaya postocracy mungkin belum jalan. Untuk sukses ide harus dijalankan dengan angon ulat dan mampu menemukan titik-titik power yang relevan. Beberapa gagasan humanistik, misalnya merayakan ulang tahun teman yang sedang dalam keadaan sakit, untuk sukses rupanya harus melalui koridor power game yang delicate, yang tidak nampak tetapi menentukan.

Apakah kita sesama alumni sudah memupuk rasa saling peduli ? Bahkan secara teknologi dan biaya sangat memungkinkan, seperti pengiriman sms yang begitu murah dan gampang, ajakan untuk sekadar mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman lama, juga bukan sebagai hal yang otomatis dan mudah terlaksana.
Untuk semua itu memang saya harus melalui beberapa kesalahan untuk bisa menuju kebaikan.

Dunia yang kini imperatif sebagai dunia yang tersambungkan oleh Internet, juga belum kita manfaatkan. Beberapa teman yang saya lacak dan ternyata memiliki akun Facebook, ternyata mangkrak pemanfaatannya. Padahal media-media sosial di Internet itu mampu menjadi sarana reuni dan diskusi yang baru dan menyenangkan bagi kita semua. Karena reuni di dunia maya itu praktis bisa dilakukan setiap harinya. 

Adalah seorang pakar kesehatan holistik lulusan Universitas Harvard, Andrew Weil, pernah bilang bahwa perasaan bisa saling terhubung itu merupakan faktor utama bagi kesehatan dan kesejahteraan jiwa kita. Belum lagi potensi kehadiran kita di dunia maya menjadi monumen yang "abadi." Sekali kita memberikan kontribusi, dokumen dan pesan yang terekam di dunia maya itu secara teoritis mampu memberi manfaat kepada dunia. Nama kita pun, juga angkatan alumni kita, menjadi abadi karenanya.


Masih ada waktu untuk mengubah keadaan. Dengan cara saya sendiri, saya mencoba melakukan apa yang saya bisa. Terus bicara dan bicara, juga membelai, sambil mengharap perempuan cantik A69 itu bisa segera bangkit dari kondisi komanya.

Ada harapan tersembul. Semoga panggilan "bakti pada pertiwi" yang tergores dalam mars sekolah kita itu masih mampu menggetarkan nurani kita. Minimal dengan berbuat atau peduli dengan teman kita yang lain, sehingga kita semakin menghayati transformasi nilai-nilai yang terjadi pada diri kita pada tanggal 19 Januari 1967 itu pula. 


Itulah hari pertama kita menanam cinta. 
Untuk sekolah kita. Untuk para guru-guru kita. 
Untuk teman-teman kita, yang masih bersama kita, atau pun mereka yang telah mendahului kita. Untuk Wonogiri kita. Untuk Indonesia kita.  Cinta kita itu tak akan terhapuskan sepanjang jaman.


SMP Negeri di Wonogiri
Nyata harum namamu
Tampaklah jasamu yang besar
Karna semua usahamu
Menuju rakyat sempurna sejati
Taman pendidikan
Membimbing menempa perisai kita
Harapan Nusa bangsa

Reff :
Bahagia jaya
Kota Gandul yang permai
Bangga megah meninggi
Rakyat merasa.

Terus kan langkahmu
Guna mencapai
Cita-citamu yang suci dan murni
Bakti pada Pertiwi.


Wonogiri, 19-21 Januari 2013

Kamis, 18 Oktober 2012

Angka 4 Di Raporku dan Guru-Guru Dalam Kehidupanku

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirikita (at) gmail.com



Hari Guru Sedunia 5 Oktober 2012.  Siapa Saja Guru-Guru Yang Telah Ikut Membentuk Diri Anda Hingga Seperti Saat Ini ? 

Di Facebook, saya mencoba membuat daftar para guru yang paling saya ingat, yang berjasa dalam kehidupan saya selama ini. 

Bukan berarti guru-guru yang lain tidak memiliki jasa, tetapi ada hal-hal khusus yang dapat saya kenang dari mereka.Inilah daftar sebagian guru-guru saya (tidak semuanya berprofesi guru) yang bisa saya ingat :
  

(1) Ibu Suji, guru TK Nasional, di Kajen, Wonogiri. Beliau tinggal di Solo, pulang pergi naik kereta api uap. Bekas lokasi taman kanak-kanak itu kini menjadi bagian dari komplek pabrik jamu Air Mancur, di Kajen. Rumah paling timur, yang dulu dimiliki oleh keluarga Pak Dirjo.

Melihat sosok Ibu Suji tampak dari kejauhan, sudah menerbitkan kegembiraan bagi kami para murid-muridnya. Saat itu saya bersekolah bersama Liliek Dwi Sularyanto (
1c/2b/3c).



(2) Pak Hadi Narwoto, guru saya klas 5 dan 6 SDN 3 Wonogiri. Saat itu ada acara ronda di sekolah, ada beberapa murid lelaki yang diminta untuk berjaga di sekolah. Oleh beliau saya dipercaya untuk membawa kunci lemari sekolah.

Muncul niat jahil, yaitu saya bisa membaca-baca isi rapor teman-teman yang numpuk di lemari. Tetapi juga menemukan buku-buku bacaan menarik yang teman lain tidak memiliki akses terhadapnya.

(3) Pakde Sutono. Ini guru, kakak ibu saya, tinggalnya di Kedunggudel, Sukoharjo, bersama embah saya Martowirono, bayan. Entah siapa yang melakukan, salah satu pojok ruang tamu rumah itu ada rak yang berisi majalah dari Departemen Sosial, juga majalah Penyebar Semangat, dan buku yang paling saya ingat, Babad Pacitan.

Setiap kali dari Wonogiri berkunjung ke Kedunggudel, pojok favorit itu menjadi sasaran : baca-baca komik Phantom dan kartun Pak Klombrot di majalah Penyebar Semangat.

(4) Bapak saya, Kastanto Hendrowiharso. Seorang TNI, tugasnya di Yogya. Sejak klas 4-5 SD, saya hanya punya ayah tiap Sabtu sore sampai Senin pagi. Sebagai anak pemalu, setiap saya butuh dibelikan buku untuk pelajaran atau bacaan, saya menuliskan datanya di secarik kertas. Lalu saya masukkan ke kantong baju seragamnya. Bacaan favorit saat itu, serial Nogososro-Sabukinten. Buku ini sering menjadi pertukaran cerita dengan teman SD saya, Sugeng Sudewo (1a/2c/3a).

Hari Sabtu depan, engga usah ngomong, saat ayah saya tiba di rumah sekitar jam 2 siang (saya jemput di terminal bis), langsung saya membuka-buka tas beliau. Kalau di dalamnya ada buku roman sejarah  karya SH Mintardja tersebut, langsung saya baca. Menjelang Maghrib, buku itu sudah selesai saya baca.

Ada cerita tambahan. Karena terpikat oleh ilustrasi dalam novel itu yang dibuat oleh Kentarjo, saya pernah oleh dimarahi Pak Mulyono Wasto, guru menggambar SMP Negeri 1 Wonogiri. Pasalnya, saat itu dalam karya gambar saya dipojoknya  saya beri simbol "KEN" yang tertulis diputar ke kanan 90 derajat, sehingga membentuk gambar "rumah." 


Pak Mulyono Wasto, yang terkadang masih saya temui ketika sama-sama jalan kaki di pagi hari, menanyai saya :  "Apakah Anda seorang Kentarjo ?" Saat itu pula saya baru bisa ngeh atau faham bila gambar rumah itu merupakan inisial dari sang ilustrator : Kentarjo. Matur nuwun, Pak Mul.

(5) Ibu saya, Sukarni, wiraswastawan. Sebagai istri tentara, ia berlangganan majalah Kancana/Kartika Chandra Kirana. Karena sering mendengar guyonan ayah dan ibu saya, guyonan itu saya catat, lalu saya kirimkan ke majalah itu.

Saat itu saya duduk di klas 1 SMPN 1 Wonogiri (1967), ternyata lelucon yang saya kirimkan itu dimuat dan memperoleh honor. Kalau tidak salah ingat, saat istirahat saya meminjam sepedanya Riyanto (1b/2b/3b), untuk pergi meminta tanda tangan pengesahan ke kelurahan Giripurwo (di Kerdukepik). Kemudian menguangkannya di kantorpos, di Ponten. 


Besar honor untuk dua lelucon sebesar Rp. 200,00. Kalau SPP saya saat itu sebesar Rp. 5,00/bulan, maka betapa besar honor lelucon tersebut. Terkait lelucon itu, pada setiap kesempatan,walau saya mendengarnya dengan malu-malu, senang juga setiap kali ibu saya mengutip isi lelucon saya yang termuat di majalah Kancana itu. Di masa depan, ternyata saya mampu menulis 4 buku tentang lelucon juga !


Bambang Haryanto : Rapor Klas 1B SMP Negeri 1 Wonogiri 1967, Guru yang berpengaruh dalam hidupku : Bapak Sutomo, guru pelajaran administrasi, saat saya klas 1 SMPN Wonogiri. Sebelum masuk SMP, saya sudah dengar betapa beliau ini guru yang galak.Tetapi, entah kenapa, saat tes pelajaran beliau, saya menyontek.Menulis jawaban di telapak tangan. Saya ketahuan, dan nilai rapor saya : 4.Agar tidak menyontek lagi, saya mengadakan "revolusi" belajar. Setiap pulang dari sekolah, tiap-tiap mata pelajaran hari itu saya tulis kembali dalam bentuk butir-butir pertanyaan. Lalu jawabannya pun juga disajikan secara tertulis. Kebiasaan ini akhirnya menjadi kecintaan, hingga kini. Terima kasih, Pak Tomo. 


(6) Bapak Sutomo, guru pelajaran administrasi, saat saya klas 1 SMPN Wonogiri. Sebelum masuk SMP, saya sudah dengar betapa beliau ini guru yang galak.Tetapi, entah kenapa, saat tes pelajaran beliau, saya menyontek.Menulis jawaban di telapak tangan. 

Saya ketahuan, dan nilai rapor saya di catur wulan pertama untuk pelajaran beliau merah : 4 (foto di atas). Syukurlah, di catur wulan ketiga, angkanya sudah menjadi tujuh.

Agar tidak menyontek lagi, saat itu saya mengadakan "revolusi" belajar. Setiap pulang dari sekolah, tiap-tiap mata pelajaran hari itu saya tulis kembali dalam bentuk butir-butir pertanyaan. Lalu jawabannya pun juga disajikan secara tertulis. Kebiasaan ini akhirnya menjadi kecintaan, hingga kini. Terima kasih, Pak Tomo.

(7) Bapak Anggono Yudho. Nama populernya : Pak Gon. Saat saya klas 2a, beliau mengajar klas 3 untuk pelajaran bahasa Inggris. Karena guru bahasa Indonesia berhalangan, beliau masuk kelas saya dan menyuruh murid-murid menulis puisi. 


Beberapa hari kemudian puisi saya ternyata ikut beliau tempelkan di majalah dinding sekolah. Kepala ini terasa "meledak" saat itu dan nyala kegembiraannya masih hidup sampai saat ini.


(8) Bapak Mufid Martohadmodjo, guru bahasa Inggris, saat saya duduk di klas 3B SMPN 1, 1969. Beliau mengumpulkan sebagian muridnya yang beliau pandang menyukai pelajaran tersebut. 

Antara lain, Muhammad Nurdin (kini guru besar di ITB), Aria Nugroho, Esti Kuswandani (keduanya sudah almarhum), saya dan teman lainnya, untuk belajar percakapan bahasa Inggris. 

Dengan menggelar tikar di halaman sekolah, bagian utara. Di bawah pohon waru. Setiap Rabu sore. Saat itu saya menyontek cerita dari ayah saya, tentang penjual arang yang salah faham dalam menanggapi permintaan maaf seorang bule. 

Bule itu bilang, "I'm sorry," tetapi ditanggapi si penjual arang dengan sikap marah. Dengan ucapan : "Ora esuk, ora sore, aku yo wani yen mung padu karo kowe !"

Pak Mufid beberapa bulan lalu masih saya temui di Perpustakaan Wonogiri. Foto di atas dijepret tanggal 27 November 2008.  Bahasa Inggris saya sampai saat ini masih jelek, pernah engga lulus TOEFL. Tetapi embrio semangat untuk memperoleh asupan informasi dunia melalui bahasa itu, tetap membara.

(9) Pak Ibnu, guru aljabar di jurusan mesin STM Negeri 2 Yogyakarta, 1970. Beliau kalau sewot, menyebut kami-kami sebagai berotak "gombal." Dulu sih ya sakit hati, tetapi sebagaimana Nora Ephron atau Caroll Burnett bilang kalau tragedi + waktu = komedi, maka predikat "gombal" itu kini bisa sebagai sumber senyum-senyum nostalgia.

(10) Pak Sukartolo, guru bahasa Inggris, di jurusan mesin STM Negeri 2 Yogyakarta, 1970-1972. Guru yang nyentrik. Walau di STM tidak ada tuntutan kuat untuk menguasai bahasa ini sebagai syarat kelulusan, tetapi benih cinta yang beliau semaikan terhadap bahasa ini terus bersemi di lubuk hati.

(11) Ibu Lily Koeshartini Somadikarta, dosen saya di Jurusan Ilmu Perpustakaan-Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1980-1984. Kata mutiara dari beliau yang mengutip ucapan Isaac Newton ("berdiri di punggung raksasa") dan Samuel Johnson ("pengetahuan itu ada dua jenis"), selalu terpateri di sanubari ini. 


Juga penerimaan beliau terhadap mahasiswa satu ini, yang sering berkata dan berulah secara tidak lajim, menunjukkan betapa jiwa seorang guru yang mendidik untuk membebaskan, benar-benar tersemat dalam diri beliau.

(12) Juga untuk semua guru, guru bagi kehidupan saya selama ini.


Wonogiri, 18 Oktober 2012

Selasa, 09 Oktober 2012

Jiyono, Potret Sahabat Yang Gigih Memburu Kesembuhan


Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirikita (at) gmail.com



Reuni mini. Wajahnya nampak segar. Suhu tubuhnya terasa lebih hangat ketika saya pegang saat saya berdua berpotret bersama. 

Pemotretnya, Bambang Sadoyo (1b/2b/3b), yang saya sebut sebagai Mas Gembuk. Ketika SMP, bertetangga di Kajen, ayahnya bernama Pak Maryomo yang memiliki radio di mana saya sering ikut menguping siaran pertandingan sepakbola. 

Sebelumnya, untuk memompa semangat juang sobat Jiyono (1c/2c/3d) dalam memperjuangkan kesembuhan, adalah teman kita Singgih Sisworo (1e/2c/3e) berkenan memberikan doa dan motivasi dengan pendekatan relijius.

Turut menyaksikan diskusi dua sahabat lama itu adalah Bambang Sri Hartono, yang merupakan sahabat karib Singgih ketika sama-sama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonogiri. Keduanya tetap berinteraksi dalam perkawanan hingga saat ini.

Reuni mini sebagian murid Angkatan 1969 itu berlangsung di rumahnya Jiyono, Jl. Dewi Sartika, Wonokarto, Kamis malam, 4 Oktober 2012. Bagi diri saya, bisa menemui Jiyono malam itu, rupanya memerlukan cerita yang cukup panjang.

Jiyono dan Singgih, Wonogiri, 4 Oktober 2012
Jiyono Bersama Bambang Haryanto dan Singgih Siworo, Wonogiri, 4 Oktober 2012
Singgih Siworo, Bambang Sri  Hartono dan Bambang Sadoyo, Membezuk Jiyono, Wonogiri, 4 Oktober 2012

Keterangan gambar : Jiyono sedang memperoleh motivasi dari Singgih Sisworo (paling atas), saat berfoto bersama penulis (tengah), dan nampak Singgih, Bambang Sri Hartono dan Bambang Sadoyo menyimak tuturan Jiyono.


Business as usual yang gagal. Nama Jiyono masuk orbit  benak saya baru terjadi pada tanggal 12 Juli 2012.  Di rumahnya Niniek Endang Wuryani (foto), Jl. Pelem, Wonogiri.   

Niniek ini bagi diri saya juga punya “sejarah” unik tersendiri. Saya tahu dirinya, walau tidak kenal, adalah ketika Niniek masih duduk di kelas 5 atau 6 SD VI Wonogiri di Salak. 

Padahal saya bersekolah bersama Sugeng Sudewo, Kustati Srihariti, Aria Nugroho (alm.), Sri Wahyono (alm.), Sri Suparni, Wahyu Handayani, Dwiana Warpindyastuti (alm.), Sukarsih (alm.) sampai Sri Hadini, di SD Negeri III Wonogiri di Sanggrahan.

Entah takdir atau entah apa, kok saya bisa
kluyuran sampai SD VI dan pas melihat Niniek. Dan sejak itu saya tidak melupakannya. Tetapi anehnya, waktu sama-sama saat SMP, nyaris Niniek itu hanya menggoreskan kenangan yang kabur di benak saya.

Sesudah momen 12 Juli 2012 itu kalau Niniek saya sms dengan cerita sekadar mengingatkan betapa mempesona dirinya saat dia masih di SD VI itu hingga kini, ia selalu menjawab : “Rayuan gombal.”

Begitulah, memang calon bahan “gombal” juga yang bisa membuat saya bisa kenalan (lagi) sama Niniek saat itu. Tujuan saya ke rumahnya adalah untuk
laundry jas. Niniek kan punya bisnis rumahan sebagai agen laundry, bernama Ragil Laundry.

Merasa dirinya tidak mengenal saya sebagai sesama murid SMPN 1, saya akan melakukan transaksi business as usual. Saya konsumen dan dia pemberi jasa. Ada pamrih tambahan sedikit : ingin melihat-lihat dirinya, apakah masih mempesona seperti ketika masih imut-imut sebagai murid SD VI di tahun 1966-1967 silam itu.

Skenario itu ternyata tidak berjalan mulus. Begitu memasuki rumahnya Niniek, ternyata sudah ada Sugeng Sudewo, Mas Kentut, juga Niniek, sedang mengobrol di beranda rumah. Rencana saya to do business as usual, ya gagal.

Begitulah yang terjadi. Saat  itu merupakan momen resmi  saya yang murid 1b/2a/3b baru bisa berkenalan dengan murid 1a/2c/3a, yang bernama Niniek Endang Wuryani, 43 tahun sesudah kita lulus dari sekolah yang sama.

Mencatat sepenuh hati. Saat itu Niniek banyak berbagi cerita dengan Dewo. Saya sebagai orang baru, lebih banyak mendengar. Termasuk mendengar betapa beberapa teman kita sudah mendahului menghadap Sang Khalik. Antara lain muncul nama Aria Nugroho sampai EstiKuswandani. Keduanya satu kelas dengan saya di 3b.

Obrolan dari Niniek itu pula yang kemudian menginspirasi saya untuk membuat blog ini. Sebagai upaya mengumpulkan balung pisah dan mencatat teman-teman kita agar tidak begitu saja mudah kita lupakan walau mereka tidak lagi bersama kita.

Keberadaan blog ini juga telah saya kabarkan di situs resmi sekolah kita itu. Bahkan saya sendiri juga mendaftarkan diri di situs sekolah kita tersebut. Agak besar kepala, saat ini saya satu-satunya alumni dari Angkatan 1969yang telah terdaftar. Siapa akan menyusul ?

Upaya saya dalam menemukan teman-teman lama di dunia maya, tidak begitu memuaskan. Di Facebook memang saya menemukan akun Muhammad Nurdin (1b/2c/3b) dan Liliek Dwi Sularyanto (1c/2b/3c). Sayangnya akun kedua teman itu dibiarkan mangkrak, tidak aktif.

Guna mencegah diri saya tidak blangkemen di Facebook, saya memutuskan antara lain untuk bergabung di grup Kasturi, juga alumni SMP Negeri 1 Wonogiri, dari angkatan 1981. Ini satu angkatan dengan bupati Wonogiri saat ini, Danar Rahmanto. 

Agar data dalam blog kita tersebut bisa komplit, saya harus melakukan sesuatu aksi. Naik mesin waktu untuk bisa kembali ke masa lalu. Melakukan riset ke sekolah kita dulu.

Di pertengahan bulan puasa, pada tanggal 6 Agustus 2012,  saya menghubungi tata usaha SMP Negeri 1 Wonogiri. Akhirnya dibantu oleh mBak Ismi Azis, tata usaha, saya memperoleh data murid SMP Negeri 1 Wonogiri Angkatan 1969.

Muncul rasa aneh, juga rasa bahagia dan terharu, ketika bisa kembali menemukan nama-nama teman lama itu. Sebagian memang kabur, bahkan sama sekali tidak ada gambarnya dalam kenangan saya. 

Tetapi suasana hati saya, “saya merasa bahagia sekali” saat itu. Teman yang saya kabari via sms tentang suasana hati saya saat itu adalah Sri Hadi “Gembong” Pramono (1e/2d/3e) yang tinggal di Jakarta.

Kembali ke rumahnya Niniek. Saat itu nama Jiyono muncul dalam obrolannya Niniek. Saya saat itu tidak tahu siapa Jiyono itu. Maklum, kami berbeda kelas sejak klas satu sampai tiga. Saya menemukan data diri Jiyono kemudian dalam daftar murid Angkatan 1969 yang saya miliki.

Pagi hari, 4 Oktober 2012,  sebelum malamnya mengunjungi Jiyono atas ajakan Singgih Sisworo, saya kabarkan niat
tilik itu kepada Niniek. Ia membalas sms berisi kabar :

“Ya dtng aja gak papa, trus karo sopo wae ? Nek aq biyen karo2 konco2 sak mobil, dadi kompak, klo mo bareng2 Singgih kon koordinir mengko aq sing nembung mobile mbk Darini, ning nek ora brng2 yo apik wae, ra msalah.” [Kamis, 4 Oktober 2012 : 08.41.36].

“Yoi, wktu itu  aq sm Ruwanti, Wahyuni, Jarwaningsih, Tarmi, Endang n karo Dodik, bubar jagong Warno kancane dewe mantu, trs lngsng bezuk Jiyono.” [Kamis, 4 Oktober 2012 : 08.55.55].

Dalam obrolan bersama Jiyono malam itu saya mencoba membangkitkan kenangan akan teman-teman kelas 1 c yang kebetulan masih saya ingat. Dari Bambang Pur (“sama-sama di 2a, ia kini wartawan Suara Merdeka”), Liliek Dwi Sularyanto (“saya kenal sejak di TK Nasional, kini jadi kantor Air Mancur, Jl. Pelem, ujung paling timur”), Rosyid Wibowo yang desainer tekstil lulusan seni rupa UNS Solo, Suharyani yang anggun, juga Dwiana Warpindyastuti almarhumah.

Dari data, saya tahu Jiyono itu ayahnya bernama Karyorejono, ahli mebel. Jiyono sendiri lahir 1 November 1954. Rumahnya dulu di Kerdukepik

Domisili dia ini kemudian menjadi pijakan saya untuk mencari tahu letak rumah teman kita juga, yaitu Warsito (1a/2a/3b), yang sama-sama dari Kerdukepik. Parabannya Plentuk. Waktu klas 2a, ia sering menjadi “bulan-bulanan” gojekan oleh Sukarno, asal Salak, anak Sastrowiyono yang TU SMPN 1 saat kita bersekolah dulu itu.

Jiyono malah cerita bahwa teman kita Warsito itu baru saja meninggal dunia. Di Tulung Agung. Konon terlalu memforsir diri dalam bermain tenis. “Mungkin seperti saya,” kata Jiyono yang ketika sehat mengaku sebagai maniak dalam bermain bulutangkis di Girimarto. Karena itulah yang membuat limpanya terganggu.

Ternyata rumah Warsito itu, kalau saya jalan kaki pagi dari Kajen-Wonokarto pp, selalu saya lewati. Beberapa hari yang lalu saya menyambangi kios ibunya, yang kini dikelola kakak perempuan Warsito, di pasar.

Dunia memang sempit. Karena bapaknya Warsito yang tentara itu teman ayah saya. Malah kalau diurut-urut, ada tautan famili yang berasal dari Sukoharjo, terkait dengan Bude Suharni Sukiyo, yang guru Geografi di SM Negeri 1 Wonogiri.

Inti berita : saat  ini adalah 100 hari meninggalnya Warsito. Ia baru pensiun sekitar dua tahun, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Stasiun PT KAI di Tulung Agung. Kita doakan, semoga teman kita itu kini senantiasa tenteram dan sejahtera disisiNya.

Gembong yang  nakal. Di tengah-tengah mengobrol dengan Jiyono, saya kirim-kirim sms ke Niniek, Sri Jarwaningsih dan juga ke Gembong. Menceritakan kondisi Jiyono saat ini.

“Ya syukurlah, salam buat Jiyono,” balas Niniek. [Kamis, 4 Oktober 2012 : 19.41.13].

Sementara Gembong menulis : “Yo sampaikan salamku, doaku semoga beliau cepat sembuh n bisa aktivitas kembali…. Sehat jasmani n rochani. Salamku nggo konco2 disitu yo.” [Kamis, 4 Oktober 2012 : 19.32.47].

Mendengar nama Gembong saya sebut, Jiyono segera mengeluarkan komentar yang lucu. Membuat seisi kamar itu terbahak mengenang masa lalu.

Langsung guyonan Jiyono itu saya sms-kan ke Gembong : “mBong, kowe jarene Jiyono nakal, gawene ngethaki konco2.” [Kamis, 4 Oktober 2012 : 20.46.24].

Kemarin (8/10/2012) dengan dibantu Soetarmi (1e/2d/33), saya juga mengirim kabar kepada Eddy Darmodjo (1a/2b/3a) dan Sugeng Sudewo (1a/2c/3a) yang berdomisili di Jakarta. Kalau longgar, demikian usul-usil saya, silakan ber-sms-ria dengan teman kita Jiyono untuk membesarkan hatinya. 

Malam itu Jiyono baru saja disuntik insulin oleh putrinya yang kini mahasiswi S-2 Jurusan Ilmu Fisika Universitas Gajah Mada. Ia bercerita dengan rasa bangga sebagai ayah, bahwa putrinya itu berkali-kali lulus tes sebagai karyawati perusahaan besar. Termasuk Pertamina.

Tetapi karena lokasi tugasnya harus membuatnya berpisah dengan sang ayah yang membutuhkan perhatian, pekerjaan yang sudah ada genggaman itu tidak diteruskan. Jiyono berharap putrinya itu lulus, menjadi dosen, dan memiliki lokasi tugas yang tidak berjauhan dengan dirinya.

Dilema itu harus kita maklumi. Sesudah istrinya Jiyono, yang juga alumni A 1969 Sri Winarti (1a/2b/3b) meninggal dunia beberapa waktu lalu, praktis tinggal putrinya sebagai “dokter” pribadinya. 

Penyakit sebagai teman. Selama berbagi obrolan, kita bakal terilhami betapa gigih teman kita itu dalam upaya memperoleh kesembuhan. Ia mengembara ke pelbagai tempat, menemui pelbagai sumber, juga fasih mengetahui beragam  cara penyembuhan, baik yang palsu atau pun yang genuine,  yang ditawarkan di pasar pengobatan.

Merujuk pengalaman artis Rima Melati yang pernah divonis hidupnya tinggal beberapa bulan akibat penyakit kanker payudara dalam stadium lanjut, Bambang Sri Hartono menceritakan kiat Rima Melati dalam berjuang memperoleh kesembuhan. 


Katanya, "anggaplah penyakit itu sebagai kawan, bukan sebagai musuh." Kalau dianggap sebagai musuh, pola pikir kita selalu dalam keadaan situasi hostile, bermusuhan, dan hal itu jelas akan melemahkan daya tahan tubuh kita sendiri.

Sebagai penulis, mengacu kepada pengalaman diri sendiri, saya ajak Jiyono untuk menuangkan segala uneg-unegnya dalam bentuk tulisan. Writing therapy. Siapa tahu, ia akan pula mampu menulis biografi berisi cerita tentang kegigihan dirinya dalam memahami penyakit, sekaligus ikhtiar penyembuhannya. Jiyono bilang, di rumahnya sudah tersedia komputer atau laptop.

Bagi saya, saat itu saya senang mendengar Jiyono ketika bercerita penuh semangat dan fasih tentang pengelolaan pelbagai jenis tanaman hias di belakang rumahnya.

“Tamannya bagus,” komentar Bambang Sri Hartono dan Bambang Sadoyo, yang sempat melongok ke belakang.

Tanaman-tanaman itu bisa tumbuh bagus dan subur karena siraman cinta sang pemeliharanya. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang, senantiasa membimbing teman kita Jiyono untuk memperoleh anugerah terbaik sebagai umatNya yang beriman.

Doa dan rasa cinta semua teman angkatan 1969, selalu tercurah untukmu, Jiyono, sahabatku.


Wonogiri, 9 Oktober 2012

Kamis, 30 Agustus 2012

Beratnya Bersekolah dan Reuni Yang Dirindukan

Bersekolah itu berat,
menjengkelkan, dan makan hati.
Tetapi, kita akui saja, ketika masa-masa sekolah itu berakhir
kita semua akan selalu merindukannya.

[Sudah berpisah 43 tahun pun, seperti kami, bila ada kesempatan
selalu saja ingin suasana bersekolah itu bisa kembali].


Reuni Mini A-1969, Wonogiri, 22 Agustus 2012

Alumni SMP Negeri 1 Wonogiri Angkatan (Lulus) 1969 yang hadir : Bambang Haryanto (1b//2a/3b), Bambang Sadoyo (1b/2b/3b), Eddy Darmodjo (1a/2d/3a), Endang Sri Utami (1c/2a/3a), Joko Sunaryo (1d/2b/3d), Kustati Sri Hariti (1a/2e/3a), Niniek Endang Wuryani (1a/2c/3a),

Singgih Sisworo (1e/2c/3e), Sri Djarwaningsih (1a/2c/3a), Sri Hadi "Gembong" Pramono (1e/2d/3e), Sri Hargiyanto (1e/2a/3e), Sri Purwanti (1e/2e/3/e), Sri Ruwanti (1a/2d/3a), Sri Sudarini (1a/2b/3b), Sri Sutantini (1d/2b/3a), Sri Wahyuni (1d/2c/3b), Sutarmi (1e/2d/3d) dan Widodo "Dodik" Setyobudhy (1e/2b/3e).

Bertempat di Pondok Dahar "Tidar Raos"
Jl. Kartini No. 61 Wonogiri yang dikelola oleh Sri Sudarini.


Album Tanda Tangan Peserta Reuni Mini A-1969, Wonogiri, 22 Agustus 2012


Back sound untuk reuni mini A-1969 SMP Negeri 1 Wonogiri rasanya cocok bila dipilih karya dari Roxy Music, "If There Is Something" (1972)  yang ikut menghiasi film Flashback of a Fool (2008).

"Goyangkan rambutmu dengan ekor kudamu
Kembalikan diriku
(ketika kau muda dulu)

Lemparkan hadiah-hadiah indahmu ke udara
Saksikan ia berjatuhan di bumi
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika bukit-bukit semakin meninggi
(ketika kita muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika pepohonan semakin menjulang tinggi
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika rerumputan semakin menghijau
(ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki
(ketika kau muda dulu)."


Bambang Haryanto 1b//2a/3b
Wonogiri, 31 Agustus 2012

Rabu, 01 Agustus 2012

Rambut Sudah Beruban Belum Dapat Pekerjaan

* Catatan Dari Reuni 2003 Alumni SMPN 1 Lulusan Tahun 1969


Sebagai wahana nostalgia, reuni mampu menggugah banyak kenangan masa lampau yang sebenarnya telah terkubur oleh waktu.

Begitulah yang terjadi pada reuni murid SMP Negeri 1 Wonogiri lulusan tahun 1969, yang tergabung dalam Ikassari.

Acara reuni dan silaturahmi halalbihalal juga dihadiri para guru yang dulu pernah mengasuhnya.

''Kurun waktu 34 tahun telah mengubah kalian menjadi tidak muda lagi,'' kata Drs Muhamad Supardi, guru yang dulu mengasuh mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Meski para peserta reuni banyak beruban, bahkan ada yang telah punya cucu, sifat jenaka remaja mereka masih saja dapat muncul. Sebagaimana yang dilakukan Rosyid Wibowo (1c/2c/3c), misalnya.

Saat bersalaman dengan rekannya, Bambang Purnomo (1c/2a/3c), serta merta dia berkata: ''Mbang, apa kowe yo isih keren kaya ndhisik  (Apa kamu ya masih geli seperti dulu-Red) ?'' seraya ngithik-ngithik bagian pinggangnya.

Misteri hidup. Mencermati nasib para alumni memang cukup menarik. Di sana ada misteri yang sulit diurai dengan logika. Betapa tidak? Tahun lulusan boleh bersamaan, tetapi perjalanan nasib membawanya dalam garis yang berlainan. 

Sebagai contoh, peserta reuni yang karena usianya sekarang telah mencapai 50 tahun, lima sampai enam tahun lagi bagi mereka yang jadi birokrat di jajaran PNS, tentu segera pensiun.

Tetapi ironisnya, di antara lulusan 1969 ini ternyata masih saja ada yang belum bekerja. ''Rekan-rekan sudah akan pensiun, saya nyanthol kerja saja belum,'' keluh rekan yang sampai sekarang mengaku masih menganggur.

Ketua Ikassari E Liliek Dwi Sularyanto (1c/2b/3c) mengatakan, perjalanan waktu memang membawa nasib para lulusan menjadi beragam.

Sederet nama lulusan yang sukses, di antaranya ada yang jadi arsitek seperti Edi Darmojo (1a/2b/3a), wiraswastawan Dewa (1a/2c/3a), dosen ITB Muhamad Nurdin (1b/2c/3b), Direktur Keuangan PLN Mohamad Hasyim (1a/2b/3b), perwira tinggi (pati) TNI-AL Gunadi (1b/2/3b), disainer tekstil Rosyid Wibowo (1c/2c/3c), mantri bank Suprapto, pemimpin proyek E Liliek Dwi Sularyanto (1c/2b/3c), dan lain-lain.

Paranormal.Di sisi lain banyak pula yang menjadi guru, juga ada yang menjadi kepala sekolah, kepala susun, montir, bahkan paranormal. ''Apa pun pekerjaan kalian, kami berharap jadilah engkau sebagai figur profesional di bidangnya,'' pesan Muhamad Supardi.

Ikut hadir dalam reuni ini, para mantan guru pengasuh seperti H Margono Notopertomo SPd, Suliyo, Mulyono Wasto, Drs Simin Karsanto, Saikan BA, Diyarko, Drs Ngatiyo, Drs Maridi, Drs Sumadiyono, dan Sutomo BS BA.

Juga beberapa mantan pegawai di bagian TU yang dulu setia mengurus masalah adiminstrasi sekolah. ''Bagi saya, tahun 1969 adalah tahun yang paling saya ingat,'' ujar Margono yang sekarang mengaku aktif menjadi narasumber bawa raos kejawen di Radio Permata. Sebab, tahun itu dia mendapat jodoh Bu Ngatini yang waktu itu juga sama-sama sebagai guru di SMP Negeri 1 Wonogiri.

Kata Lilik, upaya menggelar reuni bukan bermaksud sekadar nostalgia dan hura-hura. ''Bersama rekan-rekan, kami berupaya untuk senantiasa dapat memberikan kontribusi positif terhadap sekolah ini dan juga Wonogiri,'' katanya. 

Dia mencontohkan, ketika ada musibah kebakaran Pasar Wonogiri, pihak Ikassari memberikan masukan sebagai alternatif solusi kepada Bupati.

(Bambang Pur/1c/2a/3c).

Tautan : klik di sini.
Data kelas ditambahkan dan diunggah oleh : Bambang Haryanto (1b/2a/3b)

Wonogiri, 1 Agustus 2012